Selasa, 08 Maret 2016

ANDALAS (Morus macroura Miq) ; PROFIL DAN PROSPEK SEBAGAI TUMBUHAN OBAT DAN KOSMETIKA ASAL HUTAN



ANDALAS (Morus macroura Miq) ;
PROFIL DAN PROSPEK SEBAGAI TUMBUHAN OBAT DAN KOSMETIKA ASAL HUTAN

Oleh  :  Gusmailina



Staf peneliti pada Pusat Litbang Keteknikan  Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan (PUSTEKOLAH), Badan Litbang Kehutanan

Jl. Gunung Batu No. 5 Bogor Telp./Fax.(0251)8633378/8633413
Email : gsmlina@gmail.com



RINGKASAN

Tumbuhan Andalas (Morus macroura Miq) merupakan maskot tumbuhan dari Sumatera Barat. Tumbuh endemik di pulau Sumatera, namun saat ini sulit ditemukan karena kelangkaannya. Di Indonesia, hanya terdapat dua spesies Morus, yaitu M. alba dan M. macroura, termasuk kedalam familia Moraceae, dan hanya ditemukan di Sumatera dan Jawa Barat. Pohon Andalas tergolong jenis kayu yang besar, berkualitas tinggi dan pohonnya bisa mencapai tinggi 40 m dengan garis tengah 1 m. Kualitas kayu sangat baik untuk bahan perabotan rumah tangga maupun dipakai dalam pembuatan rumah, baik sebagai tiang utama, balok untuk landasan lantai rumah, papan lantai dan dinding rumah. Andalas memiliki kayu berwarna kekuningan bila masih basah dan kecoklatan kalau sudah kering serta serat kayunya halus. Kayu  yang sudah tua hampir tidak dapat dibedakan dengan kayu jati.
Selain memiliki kayu yang bagus dan kuat, Andalas juga memiliki khasiat sebagai obat, mulai dari daun, akar dan batangnya.  Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa tumbuhan Andalas berpotensi sebagai penghasil antioksidan baru.  Dua senyawa turunan stilben, yakni lunularin dan oksiresveratrol. Senyawa lunularin ditemukan dari kayu akar dan menunjukkan toksisitas yang cukup tinggi terhadap udang A. salina dengan LC50 58,5 µg/mL,  sedangkan senyawa oksiresveratrol ditemukan pada kayu batang tetapi tidak toksik dengan LC50 > 500 µg/mL.  Mengandung  tiga senyawa turunan stilben, yaitu lunularin, oksiresveratrol, dan andalasin A, bersama-sama dengan satu turunan 2-arilbenzofuran, morasin M , satu turunan kumarin, umbeliferon, dan β-resolsilaldehid. Senyawa tersebut ditemukan pada kayu batang dan kayu akar.  Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil tersebut merupakan rujukan yang berguna untuk menemukan senyawa antioksidan dan inhibitor tirosinase baru yang potensial sebagai bahan kosmetika untuk perlindungan dan pemutihan kulit atau anti browning

Kata kunci :  Andalas (Morus macroura), langka, potensi, bahan aktif, tumbuhan obat dan 
                      kosmetika






I.  PENDAHULUAN


Tumbuhan Andalas (Morus macroura Miq) merupakan maskot tumbuhan dari Sumatera Barat. Tumbuh endemik di pulau Sumatera, namun saat ini sulit ditemukan karena kelangkaannya, sehingga  banyak masyarakat Sumatera yang tidak mengenal tumbuhan Andalas.  Untuk menemukan jenis ini di hutan butuh perjalanan berhari-hari, menunjukkan bahwa jenis ini memang sudah tergolong dalam pohon/tumbuhan langka. Mengingat manfaatnya yang cukup besar dalam tradisi adat Minang, maka kayu jenis ini banyak dicari sehingga harganya cukup mahal.  Di Indonesia, hanya terdapat dua spesies Morus, yaitu M. alba dan M. macroura, termasuk kedalam familia Moraceae. Morus alba merupakan jenis murbey yang daunnya merupakan pakan ulat sutera.  Buah pohon ini dapat dimakan. Di Indonesia jenis ini hanya ditemukan di Sumatera dan Jawa Barat. Di Jawa Barat, sudah sulit ditemukan jenis ini meskipun di hutan-hutan, sedangkan di Sumatera masih dapat ditemukan di daerah Padang bagian Selatan.. Karena itulah pemilihan jenis ini menjadi maskot tumbuhan Propinsi Sumatera Barat cukup tepat. Dengan demikian tradisi adat Minang dapat terus dilaksanakan dengan merangsang masyarakat memperbanyak, memelihara, membudidayakan dan memanfaatkannya secara lestari. Dapat dikatan populasi andalas di alam sudah sangat terbatas dan hanya dapat ditemukan di beberapa lokasi di Sumatera Barat (bpdas-agamkuantan, 2008). Pohon andalas tersebar di Negara-negara Malaysia, Indonesia, Filiphina dan Papua New Guine. Di Indonesia, andalas walaupun sudah langka tapi masih dapat di temukan di daerah daratan kepulauan Sumatera yaitu di Provinsi Sumatera Barat terutama di daerah lembah Anai dan Lembah Gunung Merapi (Nagari Paninjauan, Andaleh, Balai Satu) Kabupaten Tanah Datar. Disamping itu juga Andalas dapat ditemukan di kaki Gunung talang, sekitar daerah Maninjau, Sungai Puar, Batang Barus dan di Gunung Sago.
Dalam situs milik Balai Pengelolaan DAS Agam Kuantan (bpdas-agamkuantan, 2008).  Dikemukakan bahwa berdasarkan sejarah, Pulau Sumatera dulunya dikenal sebagai Pulau Andalas. Sementara itu, di Propinsi Sumatera Barat sendiri yang dulunya merupakan pusat kerajaan Pagaruyung yang memiliki tiga luhaknya, yaitu luhak Tanah Datar, Agam, dan Lima Puluh Kota pada luhak ini ditemukan nagari (Daerah) yang bernama Andaleh. Di Kabupaten Tanah Datar ada nagari Andaleh dan Andaleh Baruah Bukik, di Agam ada Nagari Andaleh di Lawang dan di Lima Puluh Kota ada Andaleh Baruah Gunuang. Sementara di kota Padang juga ada daerah bernama Andaleh. Semuanya ini menyiratkan bahwa kata Andaleh yang di Indonesiakan menjadi Andalas tersebut cukup populer dan diduga diambil dari nama tanaman Andalas, walaupun tidak ada data tertulis yang cukup akurat.
Pohon Andalas tergolong jenis kayu yang besar, berkualitas tinggi dan pohonnya bisa mencapai tinggi 40 m dengan garis tengah 1 m. Batang bebas cabangnya bisa mencapai lebih dari 15 m sehingga untuk bahan balok cukup baik, kualitas kayu sangat baik untuk bahan perabotan (Heyne, 1997). Masyarakat Minang umumnya mengenal kayu Andalas sebagai kayu yang bagus. Dalam pembangunan rumah adat di  Minangkabau kayu Andalas sudah menjadi tradisi sejak lama dipakai dalam pembuatan rumah, baik sebagai tiang utama, balok untuk landasan lantai rumah, papan lantai dan dinding rumah. Sering pula kayunya dipakai sebagai bahan perabot rumah tangga.  Status tumbuhan Andalas menurut kategori yang ditetapkan oleh Survival service Commision for Plants and Animals The World Conservation Union tergolong kedalam “vulnerable status” yaitu kategori untuk taksa yang sedang menuju status terancam (endangered). Semenjak tahun 1990 tumbuhan Andalas sesuai dengan keputusan Mendagri No. 48/1989 ditetapkan sebagai Flora Identitas Sumatera Barat dengan SK Gubernur KDH TK I Sumatera Barat No.522.51-414-1990 tanggal 14 Agustus 1990. jenis ini memiliki daerah penyebaran dan habitat yang agak lebih khusus, hal ini menyebabkan keberadaannya di alam semakin sedikit. Selain itu jarak jantan dan betina yang jauh juga mnjadi faktor yang menyebabkan sulitnya terjadi penyerbukan.


II.  PROFIL TUMBUHAN ANDALAS

Selain dikenal dengan nama Andaleh di daerah Minang (Sumbar), pohon ini juga dikenal dengan nama karatau atau sama dengan kertau di Jawa, di daerah Batak disebut Hole tanduk, di Inggris dikenal dengan nama Himalayan Mulberry.  Pohon ini tumbuh didataran tinggi pada ketinggian 900 - 1600 meter dari muka laut di hutan campuran yang cukup curah hujannya. Menyukai tanah yang subur, abu vulkanis, cukup humus dan gembur.  Jenis ini tergolong cukup rajin menghasilkan bunga dan buah. Dari akhir buah yang masak sampai muncul perbungaannya membutuhkan waktu sekitar 6 bulan.
Pohon Andalas secara individu dalam satu tahun dapat berbuah 2 kali. Namun buah yang terbanyak biasanya didapatkan pada bulan Juli hingga Desember. Bentuk daun mirip daun murbai yang memang kerabat dekatnya, seperti jantung namun permukaan daunnya sedikit kasar karena berbulu. Tangkai daun maupun cabangnya juga berbulu, bulu tersebut bisa menyebabkan gatal pada kulit yang peka. Buahnya menggerombol berwarna merah bila masak, berair dan terasa asam-manis mirip buah murbai. 

Gambar 1.  Buah Andaleh (Morus macroura) sumber :  Prosea (2013)

Pohon andalas berdaun tunggal, letak berseling, Helai daun bulat telur sampai berbentuk jantung, ujung meruncing, pangkal tumpul, tepi bergerigi, pertulangan menyirip agak menonjol, permukaan atas dan bawah kasar dan berwarna hijau. Pada pangkal daun terdapat daun penumpu atau stipula. Kayu Andalas berwarna kekuningan jika masih dalam keaadaan basah dan kecoklatan kalau sudah kering dan memiliki serat kayu yang halus, kayu andalas akan mengeluarkan getah berwarna putih agak keabu-abuan mirip dengan getah yang terdapat pada nangka dan beringin. Pohon andalas bisa mencapai tinggi 30 – 50 meter dengan diameter batang mencapai 2 meter lebih.  Klasifikasi tumbuhan Andalas adalah:

Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
     Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
         Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
             Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
                 Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
                     Sub Kelas: Dilleniidae
                         Ordo: Urticales
                             Famili:
Moraceae (suku nangka-nangkaan)
                                 Genus:
Morus
                                     Spesies: Morus macroura Miq.

Tumbuhan Andalas termasuk dioceous atau tumbuhan berumah dua dimana terdapat tumbuhan andalas jantan yang mengasilkan bunga jantan saja, dan tumbuhan Andalas betina yang mengasilkan bunga betina saja. Hal ini juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan tumbuhan andalas terancam punah. Biji-biji yang dihasilkan seringkali mandul karena jarang terjadinya penyerbukan dan waktu matang sebuk sari juga berbeda dengan matangnya putik yang siap dibuahi. Selain itu dari penelitian yang dilakukan oleh beberapa ahli diketahui juga bahwa langkanya tanaman ini juga dikarenakan punahnya serangga yang biasa membantu dalam penyerbukan.  Buah Andalas mirip dengan buah murbai. Buahnya berbentuk majemuk, menggerombol berwarna hijau jika masih muda dan menjadi ungu kemerahan bila telah masak. Buahnya berair dan dapat dimakan dengan rasa asam-asam manis. Perbanyakan pohon ini bisa dengan cara stek.
Perbanyakan secara kultur jaringan telah dicoba dilakukan namun hasil yang diperoleh kurang memuaskan karena setelah ditanam, tanaman tidak mampu tumbuh dengan baik, bahkan banyak diantaranya yang mati. Sehingga perbanyakan melalui biji tetap harus diteruskan, dan hal ini telah dimulai oleh Dinas Pertanian Kota Padang. Saat ini tumbuhan andalas sudah sangat jarang sekali ditemukan. Meskipun ada beberapa tumbuhan yang mampu beradaptasi yang tumbuh di Taman Hutan Raya Bung Hatta, yang terletak diantara jalan Padang-Solok, di samping kantor Dinas Pertanian Kota Padang di jalan Khatib Sulaiman, serta beberapa pohon telah ditanam juga di kampus Universitas Andalas Limau Manis Padang.

Gambar 2.  Pohon andalas yang ditanam di sampping rektorat Universitas Andalas


III.  PROSPEK TUMBUHAN ANDALAS


1.  Kayu

Andalas memiliki kayu berwarna kekuningan bila masih basah dan kecoklatan kalau sudah kering serta serat kayunya halus. Kayu  yang sudah tua hampir tidak dapat dibedakan dengan kayu jati. Apabila dipotong, kayu andalas akan mengeluarkan getah berwarna putih agak keabu-abuan. Pohon andalas bisa mencapai tinggi 30 sampai 50 m dengan diameter batang setinggi dada bisa mencapai 2 meter. Kayunya berat, kuat dan keras tetapi mudah dikerjakan. Dan banyak dimanfaatkan untuk tiang balok, papan lantai, mimbar masjid, etalase (Djam’an dan Muharam, 2010) Beberapa laporan menyebutkan bahwa kayunya banyak dipergunakan sebagai bahan perabot, salah satu perabot yang menggunakan kayu ini adalah etalase toko emas, lemari rumah tangga dan juga kincir air yang digunakan sebagai alat pemutar roda pada tempat menumbuk padi di desa-desa.


2.  Potensi Bahan Aktif

Tumbuhan andalas selain memiliki kayu yang termasuk bagus dan kuat, juga memiliki khasiat sebagai obat, mulai dari daun, akar dan batangnya. Beberapa jenis Morus, seperti M. alba, M. bombycis, M. lhou, dan M. multicaulis, telah lama digunakan sebagai obat tradisional Cina, misalnya untuk obat batuk, asma, hipertensi, influenza dan rematik. Daun dan buah Morus macroura mengandung alkaloida, saponin dan polifenol. Beberapa jenis senyawa fenol telah ditemukan pada tumbuhan andalas (M macroura) antara lain : morasin B, morasin P, mulberosida C, dan mulberofuran (Feng WU, SUN Sheng-guo, CHEN Ruo-yun, 2003).  Selain itu hasil penelitian Shen Jun Dai dan De Quan Yu (2005), menemukan sejenis antioksidan baru pada tumbuhan andalas ini yang diberi nama Guangsangon O.
Hasil penelitian Soekamto et al (2005) menemukan dua senyawa turunan stilben, yakni lunularin dan oksiresveratrol. Senyawa lunularin ditemukan dari kayu akar dan menunjukkan toksisitas yang cukup tinggi terhadap udang A. salina dengan LC50 58,5 µg/mL,  sedangkan senyawa oksiresveratrol ditemukan pada kayu batang tetapi tidak toksik dengan LC50 > 500 µg/mL.  Hasil penelitian lain juga menunjukkan bahwa tumbuhan Andalas (M. Macroura) mengandung  tiga senyawa turunan stilben, yaitu lunularin (1), oksiresveratrol (2), dan andalasin A (3), bersama-sama dengan satu turunan 2-arilbenzofuran, morasin M (4), satu turunan kumarin, umbeliferon (5), dan β-resolsilaldehid (6). Senyawa (1), (2), (4), (5), dan (6), ditemukan dari kayu batang, sedangkan senyawa (3) ditemukan dari kayu akar .  Hasil penelitian Syah, Y. M  dkk (2000), berhasil mengisolasi stilbene dimmer baru, andalasin A, bersamaan dengan stilbene oxyresveratrol dan  2-arylbenzofuran glycoside mulberroside C, dari kayu Morus macroura.
 




Gambar 3 Struktur molekul senyawa lunularin (1) dan oksiresveratrol (2) dari akar dan batang Morus macroura (Sumber Soekamto et. al., 2005)




Gambar 4.  Beberapa senyawa stilben utama dari M. macroura dan hasil biotransformasi senyawa oksiresveratrol (Sumber : Hakim, dkk., 2008)



Hakim dkk (2008) mengemukakan bahwa beberapa senyawa turunan stilben, seperti resveratrol dan glikosida resveratrol memperlihatkan aktivitas antioksidan (Jang, 1997; Teguo, 1998; Wright, 2001). Antioksidan turunan fenol, termasuk stilben, merupakan kelompok antioksidan yang penting guna menghambat terjadinya oksidasi terhadap jaringan-jaringan tubuh (substrat) yang penting. Fungsi antioksidan adalah mencegat dan bereaksi dengan radikal bebas dengan kecepatan yang lebih besar dibandingkan reaksi antara radikal bebas dengan substrat. Oleh karena radikal bebas dapat menyerang berbagai target, termasuk lipida, lemak, dan protein, maka radikal bebas dapat menyebabkan berbagai penyakit degeneratif. Kecuali sebagai antioksidan, senyawa-senyawa turunan stilben juga memperlihatkan aktivitas sebagai inhibitor tirosinase. (Likhitwitayawuid, 2001; Ohguchi, 2003). Perlu pula dicatat bahwa pigmen melanin, yang diproduksi melalui proses fisiologis yang disebut melanogenesis, memegang peranan yang sangat penting dalam melindungi kulit terhadap fotokarsinogenesis. Tirosinase atau fenol oksidase adalah enzim utama yang terlibat dalam biosintesis melanin. Inhibisi terhadap enzim tirosinase untuk mengatur metabolisme pigmentasi telah menarik banyak perhatian. Oleh karena itu, beberapa senyawa turunan stilben yang berasal dari tumbuh-tumbuhan telah diselidiki sebagai inhibitor tirosinase untuk menghindari produksi melanin secara berlebihan pada lapisan epidermal, sehingga dapat digunakan sebagai bahan kosmetik, atau sebagai bahan pemutih kulit. Ekstrak Morus alba memperlihatkan aktivitas yang sangat tinggi sebagai inhibitor tirosinase, dengan prosentase inhibisi 97%, dan oleh karena itu digunakan sebagai kontrol positif dalam skrining tumbuh-tumbuhan untuk antitirosinase (Baurin, 2002; Lee, 1997). Diduga, aktivitas antitirosinase yang tinggi dari ekstrak M. alba disebabkan oleh adanya senyawa turunan stilben, yaitu oksiresveratrol bersama-sama dengan senyawa aktif lainnya (Shin, 1998). Aktivitas biologi tersebut di atas erat kaitannya dengan bahan kosmetika dan kecantikan.
Selanjutnya hasil penelitian Hakim dkk. (2008), menyimpulkan bahwa senyawa-senyawa oksiresveratrol, andalasin A, dan andalasin B yang diisolasi sebagai komponen utama tumbuhan Andalas (M. Macroura), dan senyawa resveratrol yang banyak ditemukan pada spesies Dipterocarpaceae, merupakan senyawa-senyawa yang sangat potensial sebagai bahan antioksidan atau inhibitor tirosinase.  Hasil tersebut merupakan rujukan yang berguna untuk menemukan senyawa antioksidan dan inhibitor tirosinase baru yang potensial sebagai bahan kosmetika untuk perlindungan dan pemutihan kulit atau anti browning.
Di Indonesia, masyarakat banyak memanfaatkan daun Andalas karena dianggap berkhasiat sebagai obat kudis.  Untuk obat kudis dipakai + 50 gram daun segar Morus macroura, dicuci kemudian direbus dengan 3 gelas air sampai airnya tinggal setengah, dinginkan lalu disaring. Hasil saringan diminum tiga kali sehari pagi, siang dan sore sama banyak.

IV.  PENUTUP
Pohon Andalas tergolong jenis kayu yang besar, umumnya dikenal oleh masyarakat Minang sebagai kayu yang bagus. Pemanfaatan kayu Andalas dalam pembangunan rumah adat di Daerah Minangkabau memang sudah menjadi tradisi sejak lama. Kayu tersebut dipakai dalam pembuatan rumah, baik sebagai tiang-tiang utama, balok-balok untuk landasan lantai rumah, papan lantai dan dinding rumah. Sering pula kayunya dipakai sebagai bahan perabot rumah tangga. Buah pohon ini dapat dimakan. Di Indonesia jenis ini sudah sulit ditemukan hanya terdapat di Sumatera dan Jawa Barat.
Selain kayunya yang bagus dan berkualitas, pohon Andalas juga mempunyai potensi yang sangat bermanfaat sebagai obat maupun kosmetika yang terdapat pada kayu batang dan kayu akar. hasil penelitian Hakim dkk. (2008), menyimpulkan bahwa senyawa-senyawa oksiresveratrol, andalasin A, dan andalasin B yang diisolasi sebagai komponen utama tumbuhan Andalas (M. Macroura), dan senyawa resveratrol yang banyak ditemukan pada spesies Dipterocarpaceae, merupakan senyawa-senyawa yang sangat potensial sebagai bahan antioksidan atau inhibitor tirosinase.  Hasil tersebut merupakan rujukan yang berguna untuk menemukan senyawa antioksidan dan inhibitor tirosinase baru yang potensial sebagai bahan kosmetika untuk perlindungan dan pemutihan kulit atau anti browning.
Mengingat manfaatnya yang cukup besar baik dalam mempertahankan dan melestarikan tradisi adat Minang, maka kayu jenis ini banyak dicari sehingga harganya cukup mahal. Karenanya pemilihan jenis Andalas menjadi maskot tumbuhan Propinsi Sumatera Barat cukup tepat. Sehingga tradisi adat Minang dapat terus dilaksanakan dengan merangsang masyarakat memperbanyak, memelihara, membudidayakan dan memanfaatkannya secara lestari, ditambah kandungan bahan aktif pada tumbuhan Andalas ini banyak berguna bagi kesehatan dan kecantikan.


DAFTAR PUSTAKA

Achmad, S.A., N. Aimi, E.L.Ghisalberti, E.H. Hakim, Jasmansyah, L.D.Juliawaty, L.Makmur, Y.Manjang, U.Supratman, Suyatno, R.Tamin, & A.Yelminda. 2001. Some New Compounds from Indonesian Moraceae.  Proceedings, International Seminar on Tropical Rainforest Plants, Padang. 

Baurin, N., T. Arnoult, Q. T. Scior, Q. T. Do and P. Bernard, 2002, Preliminary screening of some tropical plants for anti-tyrosinase activity, J. Etnopharmacology, 82, 155-158.

Djam’an, D.F. & A. Muharam. 2010. Mengenal Pohon Andalas (Morus Macroura Miq) Yang Mulai Sulit Ditemukan.  Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian, 20 Oktober 2010. Bandung,

Feng WU, SUN Sheng-guo, CHEN Ruo-yun.  2003.  Studies on Chemical Constituents from the Bark of Morus macroura.  Institute of Materia Medica, Chinese Academy of Medical Sciences and Peking Union Medical College, Beijing 100050, China. 

Feng WU, SUN Sheng-guo, CHEN Ruo-yun, 2005.  A new Anti-Oxidant Diels Alder type Adduct from Morus macroura.  School of Pharmaceutical Science.  Yantai University.  Yantai.  P.R. China.

Hakim, E.H., S.A. Achmad, L.Makmur,  Y.Manjang, L.D. Juliawati,, S. Kusuma, U. Supratman, & R. Tamin. 1995. Sejumlah Senyawa Fenolik dari Tumbuhan Morus Macroura Miq. (Moraceae)”, Prosidings Seminar Kimia Bersama ITB-UKM Kedua, Bandung, 2, 21,

Hakim,E.H. Y. M. Syah, L. D. Juliawati, dan D. Mujahidin. 2008. Aktifitas Antioksidan dan Inhibitor Tirosinase Beberapa Stilbenoid dari Tumbuhan Moraceae dan Dipterocarpaceae yang Potensial untuk Bahan Kosmetik.  Jurnal Matematika Dan Sains, Vol. 13 No. 2.  Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung. Bandung

Hakim, E.H., Y. M. Syah, L. D. Juliawati, dan D. Mujahidin.  2003. Beberapa Senyawa Fenol dari Tumbuhan Morus macroura Miq.  Jurnal Matematika dan Sains Vol. 8 No. 1, Maret 2003, hal 35 – 40

http://www.bpdas-agamkuantan.net - Gerhan Agam Kuantan. Powered by Mambo Generated: 31 October, 2008, 15:10.

Heyne, K, “Tumbuhan Berguna Indonesia II”, Badan Litbang Kehutanan, Jakarta, 659, (1987).

Jang, M., L. Cai, G. O. Udeani, K. V. Slowing, C. F. Thomas, C. W. W. Beecher, H. H. S. Fong, N. R. Farnsworth, A. D. Kinghorn, R. G. Mehta, R. C. Moon and J. M. Pezzuto, 1997, Cancer Chemopreventive Activity of Resveratrol, a Natural Product Derived from Grapes, Science, 275, 218-220.

Kimura, T., “International collation of traditional and folk medicine”, Vol. 1, Part. 1, World Scientific, Singapore, 12, (1996).

Lee, K. T., B. J. Kim, J. H. Kim, M. Y. Heo and H. P. Kim, 1997, Biological Screening of 100 Plant Extracts for Cosmetics use (I): Inhibitory Activities of Tyrosinase and DOPA Auto-oxidation, Int. J. Cosmetic Sci., 19,291-298.

Likhitwitayawuid, K. and B. Sritularak, 2001, A New Dimeric Stilbene with Tyrosinase Inhibitory.  Activity from Artocarpus gomezianus, J. Nat. Prod., 2-6.

Ohguchi, K., T. Tanaka, T. Ito, M. Iinuma, K. Matsumoto, Y. Akao and Y. Nozawa, 2003, Inhibitory Effects of Resveratrol Derivatives from Dipterocarpaceae Plants on Tyrosinase Activity, Biosci. Biotechnol. Biochem., 67:7,1587-1589.

Prosea. Yayasan Kehati. Diakses desember 2013. http://www.proseanet.org/prohati4/browser.php?docsid=110

Shin, N. N., S. Y. Ryu, E. J. Choi, S. H. Kang, I. M. Chang, K. R. Min and Y. Kim, 1998, Oxyresveratrol as the Potent Inhibitor on DOPA Oxydase Activity of Mushroom Tyrosinase, Biochem. Biophysic. Comm., 243,801-803.

Soekamto, N. H., S.A. Achmad, E.L. Ghisalberti, N. Aimi, E.H. Hakim dan Y.M. Syah. 2005. Indo.Journal Chem. 5 (3), 207-210. Departemen Kimia, Institut Teknologi Bandung, Indonesia

Syah, Y.M., Achmad, S.A., Ghisalberti, E.L., Hakim, E.H. Iman, M.Z.N. Makmur, L., & Mujahidin, D. “Andalasin A, a new stilbene dimer from Morus macroura”, Fitoterapia, 71, 630, (2000).

Venkataraman, K., “Wood Phenolics in the Chemotaxonomy of the Moraceae”, Phytochemistry, 11, 1571, (1972).

Wright, J. S., E. R. Johnson and G. A. DiLabio, 2001, Predicting the Activity of Phenolic Antioxidants: Theoritical Method, Analysis of Substituent Effects, and Application to Major Families of Antioxidants, J. Am. Chem. Soc., 123, 1173-1183.

KAJIAN MANFAAT HULBAH (Trigonella foenum-graecum) UNTUK KESEHATAN DAN KECANTIKAN



KAJIAN MANFAAT HULBAH (Trigonella foenum-graecum)
 UNTUK KESEHATAN DAN KECANTIKAN  

Oleh :  Zulnely**), Gusmailina**) dan Evi Kusmiati***) ,
Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan (PUSTEKOLAH), Badan Litbang Kehutanan, Jalan Gunung Batu No. 5. Telp/Fax (0251) 8633378; 8633413. Bogor.
Email : gsmlina@gmail.com


ABSTRAK

Hulbah (Trigonella foenum-graecum) adalah tumbuhan herba yang tergolong dalam famili Fabaceae.  Tumbuhan ini  dikenal juga dengan nama dagang Fenugreek atau Methi. Sementara di Indonesia lebih populer dengan nama klabet atau kelabat. Tumbuhan ini dapat tumbuh hampir di seluruh dunia, namun lebih banyak ditemui di beberapa negara seperti India, Mesir, Argentina, Spanyol, Prancis, Turki dan China. India merupakan penghasil hulbah terbesar di dunia.  Di Indonesia masih jarang ditemukan penanaman hulbah, karena kebutuhan lebih banyak di suplai dari India dan Timur Tengah.  Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa selain dipakai sebagai bumbu masakan kari atau gulai, hulbah sangat bermanfaat sebagai herbal kesehatan maupun kecantikan.  Hulbah juga dianggap sebagai zat antioksidan paling kuno, karena mengandung gizi,  vitamin dan mineral yang dapat memerangi radikal bebas dalam tubuh sehingga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Beberapa penyelidikan modern mengungkapkan bahwa hulbah mengandung senyawa steroid, dimana senyawa ini berfungsi memfasilitasi sintesis dari banyak hormon serta mengoptimalkan efek hormon dalam tubuh, termasuk hormon sexual.  Tulisan ini menguraikan tentang kajian hulbah meliputi khasiat dan manfaat kesehatan bagi manusia, serta analisis hulbah dengan metode Py-GC-MS (Pyrolisis Spektrometri Massa Kromatografi Gas).  Analisis dilakukan di Lab. HHBK, Pustekolah, Bogor. Tumbuhan ini diperbanyak melalui biji, toleran terhadap naungan, sehingga cocok ditanam sebagai tumpang sari di bawah tegakan hutan. 
Kata kunci :  Hulbah. Manfaat, herbal kesehatan. kecantikan, hormone, analisis
==============================================================================
   *)     Disampaikan sebagai makalah poster pada Seminar Nasional Masyarakat Biodiversitas Indonesia 
            Kampus UI Depok, 20 Desember 2014.
 **)   Peneliti pada PUSTEKOLAH (Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan), Badan    Litbang Kehutanan, Kementerian Kehutanan.  Jalan Gunung Batu No. 5. Telp/Fax (0251) 8633378; 8633413. Bogor.  Email : gsmlina@gmail.com
***)  Teknisi Litkayasa pada PUSTEKOLAH (Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan), Badan Litbang Kehutanan, Kementerian Kehutanan.  Jalan Gunung Batu No. 5. Telp/Fax (0251) 8633378; 8633413. Bogor. 

BENEFITS ASSESSMENT OF HULBAH (Trigonella foenum-graecum)   FOR HEALTHY AND BEAUTY

By :  Zulnely**), Gusmailina**), and Evi Kusmiati***)

Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan (PUSTEKOLAH), Badan Litbang Kehutanan, Jalan Gunung Batu No. 5. Telp/Fax (0251) 8633378; 8633413. Bogor.
Email : gsmlina@gmail.com


ABSTRACT

           Hulbah (Trigonella foenum-graecum) is a herbaceous plant belonging to the family Fabaceae. This plant is also known by the trade name Fenugreek or Methi. While in Indonesia, more popularly known as fenugreek or kelabat. This plant can be grown almost all over the world, but more prevalent in some countries such as India, Egypt, Argentina, Spain, France, Turkey and China. India is the largest producer in the world. In Indonesia is still rarely found hulbah planting, because most of supply from India and the Middle East. Various studies indicate that in addition to be used as a cooking spice curry or stew, hulbah very beneficial as herbal health and beauty. Hulbah regarded as the most ancient antioxidants, because it contains nutrients, vitamins and minerals that can fight free radicals in the body that can boost the immune system. Some modern investigation revealed that hulbah containing steroid compounds, which facilitates the synthesis of these compounds function of many hormones and optimize the effects of hormones in the body, including sexual hormones. This paper describes a study hulbah includes efficacy and health benefits for humans, as well as the method of analysis hulbah Py-GC-MS (Gas Chromatography Mass Spectrometry Pyrolisis) in HHBK Laboratory, Pustekolah. This plant is propagated through seeds, prefer to grow in the shade, making it suitable to be planted as an agroforestry / intercropping under forest stands.

Keywords: Hulbah. Benefits, herbal health. beauty, hormones, analysis














I.  PENDAHULUAN


A. Profil  Tumbuhan  Kelabat
Hulbah  (Trigonella   foenum-graecum)  adalah  tumbuhan  herba  yang  tergolong  dalam  family  Fabaceae, dikenal  juga  dengan  nama  dagang ,  Fenugreek  atau  Methi.  Di  Indonesia  lebih  popular  dengan  nama  klabet  atau  kelabat.  Tumbuhan  ini  dapat  tumbuh  hampir  di  seluruh  dunia,  namun  lebih  banyak  ditemui  di  beberapa  negara  seperti  India,  Mesir,  Argentina,  Spanyol,  Prancis,  Turki  dan  China.  India  merupakan  penghasil  hulbah  terbesar  di  dunia.  Di  Etiopia  terkenal karena bijinya digunakan sebagai  obat  diabetes.  Di  Indonesia  masih  jarang  ditemukan  penanaman  hulbah,  karena  kebutuhan  lebih  banyak  di  suplai  dari  India  dan  Timur  Tengah.
Sesungguhnya hulbah telah  dikenal  sejak zaman Nabi Muhammad Rasullullah SAW. Disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW bahwa Rasulullah SAW menyarankan pada sahabat untuk memberikan biji hulbah/kelabat kepada sahabat lain yang sakit. Beberapa informasi menunjukkan bahwa selain dipakai sebagai bumbu masakan kari atau gulai, hulbah sangat bermanfaat sebagai herbal kesehatan maupun kecantikan.  Hulbah dianggap sebagai zat antioksidan paling kuno, karena mengandung gizi,  vitamin dan mineral yang dapat memerangi radikal bebas dalam tubuh sehingga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Penyelidikan modern mengungkapkan bahwa hulbah mengandung senyawa steroid, dimana senyawa ini berfungsi memfasilitasi sintesis dari banyak hormon serta mengoptimalkan efek hormon dalam tubuh, termasuk hormon sexual (Gupta A, 2001).

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjpAL4dW3ArIPWkqYviZrRq2j-PGw7P4mUj-J7ZCFAte23Y_9adO6up39-2N4MQ4CkGYhW18mHBzwILX8C7gop_CTtx7ldg-2JrxQTa2R5rCiJ94Upny1Zdx6cBghMKYYArDP2r8GoMQM4/s1600/hulbah.jpg
Gambar 1.  Tumbuhan hulbah

B. Penyebaran Tumbuhan Kelabat
Selain banyak  ditanam  di  India dan Maroko, sejak  zaman  dahulu hampir  setiap rumah petani  di Mesir hingga perkotaan  menyimpan  biji  hulbah.  Beberapa negara penghasil hulbah  antara lain :  Nepal,  India,  Pakistan,  Bangladesh,  Argentina,  Mesir,  Perancis,  Spanyol,  Turki,  Moroko  and  China.  Hulbah  juga  digunakan  oleh  bangsa  Eritrea  dan  Etiopia  sebagai  bumbu  masakan.  India  merupakan  negara  penghasil  hulbah  terbesar  di  dunia, meliputi   80%  produksi  total  negaranya, karena umumnya hulbah  di India lebih  populer  untuk  aroma  pembangkit  selera.  Di Indonesia hanya beberapa petani yang menanam hulbah, padahal Indonesia sangat berpotensi sekali untuk pengembangan tanaman hulbah, terutama di bawah naungan sebagai tanaman tumpang sari dengan tegakan hutan.  Semoga dengan adanya informasi ini ada yang tertarik untuk berbudidaya hulbah di Indonesia, sehingga kebutuhan hulbah Indonesia tidak tergantung dengan impor.
Gambar 1.  Budidaya tumbuhan hulbah (Trigonella foenum-graecum)

II.KANDUNGAN HULBAH

A.      Nutrisi Hulbah

  Hulbah atau kelabat  mengandung  vitamin  E,  albumin  (zat putih telur)  30%  dan  minyak  sekitar  70%.  Ternyata unsur  minyak  ini yang  menyebabkan  melimpahnya  volume  produksi  air  susu  ibu jika dikonsumsi oleh ibu menyusui (Medically Reviewed, 2014).  Selanjutnya dikemukakan juga bahwa kandungan  vitamin  A,  B,  C,  dan  D  banyak  terdapat  pada  tanaman  hulbah  hijau.  Biji  tanaman  hulbah  banyak  mengandung  protein,  getah-getahan,  minyak  jenuh,  minyak  tak  jenuh  dan  alkali  yang  disebut  dengan  kolin  dan  trigenalin.    Hulbah  juga  dikenal  dengan  herbal  seribu  manfaat,  karena  banyak  sekali  mengandung  nutrisi  yang  sangat  bermanfaat.  Biji  hulbah  merupakan  sumber  yang  kaya  dengan  polisakarida  dan  galaktomannan. Juga  sumber  dari  senyawa  saponin  seperti  diosgenin,  yamogenin,  gitogenin,  tigogenin,  dan  neotigogens.  Konstituen  aktif  lainnya  adalah  mucilago  (mucilage),  minyak  atsiri  (volatile oil),  dan  alkaloid  seperti  choline  dan  trigonelline.  Ada  manfaat  yang  penting  dari hulbah,  yaitu  bisa  memperbesar  payudara,  dengan  meniru  efek  estrogen  dengan  merangsang  produksi  prolaktin. Kedua  hormon  ini  penting  untuk  perkembangan  payudara.  Kemudian  sebagai  suplemen  nutrisi  untuk  kesuburan  bagi  suami  dan  istri  serta  untuk  terapi  kemandulan.  Bagi  ibu  yang  ingin  melahirkan,  manfaat  hulbah  ini  bisa  merangsang  persalinan  dan  melancarkan  ASI,  serta  menjadi  salah  satu  nutrisi  terbaik  yang  bisa  dimakan  oleh  ibu  yang  sedang  menyusui.  Hulbah  aman  dan  alami  merangsang  pertumbuhan  jaringan  yang  mengakibatkan  payudara lebih besar,  lebih  kuat,  dan  payudara  yang  lebih  penuh  dan  indah  menarik.   Ternyata  hulbah  sejak  jaman  kuno  memiliki  reputasi  sebagai  pembesar  payudara  dan  berisi  diosgenin  yang  digunakan  untuk   membuat  sintetik  estrogen  dan  telah  terbukti  meningkatkan  pertumbuhan  sel-sel  payudara.  Bisa  diminum   sebagai  teh,  menggunakannya  dalam  yogurt,  saus  apel  atau  sup,  atau  membuat  campuran  lotion  dan  pijat langsung  ke  payudara.  Sehingga  membantu  kecantikan  dan  kesehatan  payudara (Medically Reviewed, 2014). 
Gambar 2.  Biji hulbah (foto dok. Gsmlina)

B.  Analisis sifat kimia dari hulbah/ kelabat

Hulbah merupakan salah satu tanaman obat tertua di dunia yang mempunyai beragam khasiat. Biji hulbah mengandung karbohidrat, protein, minyak lemak, minyak atsiri, flavanoid, vitexin, sapogenin, kumarin, trigliserida tinggi, dll. Beberapa hasil penelitian telah berhasil mengisolasi senyawa diosgenin, yaitu bahan baku utama dalam produksi hormon steroid (Ruby, 2005). Selanjutnya dijelaskan bahwa hulbah juga sangat kaya fitoestrogen, yang populer sebagai pelancar ASI di Eropa. Kandungan serat dan saponinnya yang tinggi juga dapat mengatasi sembelit yang sering dialami oleh ibu-ibu pasca melahirkan (Nithya Neelakantan, dkk., 2014).
Gambar 3. Senyawa Diosgenin sebagai bahan utama produk steroid, berfungsi meningkatkan pertumbuhan sel-sel payudara

Hasil analisis biji hulbah dengan menggunakan Py GCMS dapat dilihat pada Gambar 2. Terdapat 30 komponen utama dari biji hulbah, 5 komponen utama yang mendominasi dengan metode pyrolisis GCMS yaitu :  N-trimethylsilylacetamide sebesar 38,24 %; 9-octadecenoic acid (Z)-(CAS) Oleic acid sebesar 8,46 %; 2,2-Dimethyl-1,3-doxane-4,6-done sebesar 6,04 %; Formamide (CAS) Methanamide sebesar 4,77 %; dan Methanethiol (CAS) Mercaptomethane sebesar 4,56 %.
            Hasil analisis (Gambar 4) menunjukkan bahwa hulbah mengandung Oleic acid atau asam oleic sekitar 8,5%.  Diketahui bahwa Oleic acid adalah termasuk asam lemak omega-9 tak-jenuh-tunggal yang terdapat pada bermacam sumber hewani dan dan nabati. Berbagai informasi menebutkan bahwa menyantap makanan yang mengandung oleic acid, memiliki kemungkinan lebih kecil terserang radang usus besar, membantu mencegah perkembangan radang usus besar dengan cara mengeblok bahan kimia di usus besar yang menambah parah radang  pada penyakit tersebut (Andrew Hart, 2014 dalam Kompas, 2014).  Dijelaskan bahwa sekitar separuh kasus radang usus besar dapat dicegah jika oleic acid dikonsumsi dalam jumlah yang lebih banyak (Kompas, 2014).

Gambar 4:  Analisis biji hulbah dengan metode PC-GCMS


Nahid Sohrevardi dan Firouzeh Sohrevardi (2012) mengemukakan bahwa pada tumbuhan hulbah terdapat 40 komponen yang teridentifikasi sebagai oil essence dan 94% dari total essence terdapat pada tumbuhan hulbah.  Pada Tabel 1 dapat dilihat analisis hulbah menurut Nahid Sohrevardi dan Firouzeh Sohrevardi (2012). Sedangkan macam  antioksidan methalonic dan  ethanolic dari ekstrak hulbah antara lain : coumarin, phenol, Nicotinic acid , fugarsterol, stigmasterol, sistosterol, dan sotolone.  Komponen Sigmasterol dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah.
             Tabel 1.  Analisis Hulbah
No
Komponen
% komposisi
1
 α-bisabolol
2,3
2
γ-cadinene
1,8
3
farnesol
0,9
4
α-cadinol
1,7
5
γ-eudesmol
0,8
6
trigonellin
0,6
7
diosgenine
0,8
8
Fatty acid
1,8
9
Hydro carbons
20,3
10
lactones
1,1
11
Phenolic derivatives
8,7
              Sumber: Nahid Sohrevardi dan Firouzeh Sohrevardi (2012).
            Menurut USDA Nutrient database melaporkan bahwa hulbah mengandung Energy: 323 Kcal,  Karbohidrat : 58.35 g,  Protein: 23 g,  Fat (lemak): 6.41 g, dan Dietary Fibre (serat) : 24.6 g. Mengandung Vitamin seperti : Thiamine: 0.322 mg, Riboflavin: 0.366 mg, Niacin: 1.640 mg, Pyridoxine: 0.600 mg,  Folates: 57 µg,  Vitamin A: 60 IU,  dan Vitamin C: 3 mg.  Mengandung Electrolytes antara lain :  Sodium: 67 mg,  Potassium: 770 mg,  Juga mengandung Mineral seperti :  Calcium: 176 mg,  Magnesium: 191 mg,  Manganese: 1.228 mg,  Phosphorus: 296 mg,  Copper: 1.110 mg,  Iron: 33.53 mg,  Selenium: 6.3 µg dan Zinc: 2.50 mg
III.  MANFAAT HULBAH

A. Biofarmaka/Kesehatan
Hulbah  dianggap memiliki fungsi ganda yaitu untuk penyembuhan dan afrodisiak. Secara laboratoris pada biji hulbah ditemukan 4-hydroxyisoleucine (4-OH-Ile), fat, diosgenin, zat besi, phenolic acids, protein, dan protodioscin (Shishodia, 2006). Dalam pengobatan herbal tradisional Cina dan India, hulbah dianggap sebagai obat untuk menyembuhkan batuk, penyakit hati, pencernaan dan tentu saja sebagai zat afrodisiak karena kemampuannya memperbaiki fungsi ginjal.  Hulbah merupakan  zat antioksidan paling kuno yang dikenal manusia. Nilai gizi, vitamin dan mineral yang dikandungnya dapat memerangi radikal bebas dalam tubuh sehingga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh.   
Hulbah banyak mengandung fitoestrogen, yang dikenal sebagai pelancar ASI bagi ibu yang sedang menyusui. Serat dan saponin dalam hulbah juga tinggi, sehingga dapat mengatasi masalah sembelit yang sering dialami oleh ibu sehabis melahirkan. European Society Comission of Publication (ESCOP) sebuah lembaga riset dan publikasi di Eropa menyarankan konsumsi hulbah maksimum 6 (enam) gram setiap harinya, karena serat dalam hulbah sangat tinggi sehingga dapat menyebabkan diare, namun bisa dikendalikan dengan membatasi pemakaiannya. Pada umumnya biji hulbah aman untuk dikonsumsi. 
Untuk menjaga kebugaran badan (stamina) dan mencegah penyakit, disarankan meminum setengah sendok teh hulbah sebanyak 2 kali setiap hari (siang dan malam).  Hulbah juga dapat menurunkan gula darah dengan cara mengkonsumsi 5 sampai 30 gram setiap makan (tiga kali sehari).  Hulbah juga dapat menurunkan tekanan darah, menambah sensitifitas insulin, dan menurunkan kolesterol.  Hal ini kemungkinan karena tingginya kadar serat dalam hulbah. Hulbah juga mengandung asam amino yang dapat meningkatkan produksi insulin (mengendalikan gula darah pada penderita diabetes). Menurut Parvizpur, dkk., (2004), ekstrak hulbah menunjukkan aktivitas analgesic yang sama dengan  nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) via the spinal 5-HT system atau purinoceptors.  Selanjutnya dijelaskan juga bahwa hulbah bersifat Anticarcinogenesis,  Antioxidant activity,  Antiplatelet activity,  Exercise recovery effects,  Hepatoprotective activity,  Hypoglycemic effects, Insulin sensitization effects,  dan Lipid-lowering effects.
D. Kecantikan dan Hormon
Hasil analisis menunjukkan bahwa unsur kimia yang dikandung hulbah mengungkapkan bahwa hulbah memiliki banyak zat yang dapat meningkatkan hasrat seksual atau mengoptimalkan efek hormon seks dalam tubuh. Beberapa senyawa  tersebut adalah trimetilamina dan diosgenin yang merupakan senyawa steroid yang berfungsi memfasilitasi sintesis dari banyak hormon dalam tubuh. 
Hulbah bermanfaat untuk merangsang dan menstabilkan hormon pria dan wanita,  merangsang dan menstabilkan hormon payudara,  mengobati gangguan hormone,  membantu pembesaran payudara,  meningkatkan libido pria dan wanita,  meningkatkan stamina pria dan wanita,  Biasa juga digunakan sebagai obat kuat suami istri,  membantu mencegah dan mengobati impotensi,  membantu mengatasi reproduksi dan kesuburan suami istri,  membantu mencegah dan mengobati kemandualan suami istri,  membantu dan melancarkan sistem peredaran darah / sistem kardiovaskular,  mengurangi rasa sakit saat haid,  melancarkan Haid,  merangsang persalinan,  merangsang dan meningkatkan ASI hingga 300%,  serta merupakan nutrisi terbaik bagi ibu menyusui (Al-Habori M., et all 1998;  Sauvaire, Y.,et all, 1991). 
Hulbah  tidak boleh dikonsumsi oleh ibu hamil karena zat yang dikandung dapat merangsang kontraksi pada rahim. Hulbah juga dapat mengganggu penyerapan zat besi, sehingga tidak boleh dikonsumsi oleh penderita anemia dan orang yang mengkonsumsi obat pengencer darah. Mengkonsumsi hulbah  secara berlebihan dapat  mengakibatkan diare, dan mual-mual. Untuk merangsang, melancarkan dan meningkatkan kualitas Air Susu Ibu, konsumsi ½ gram hulbah sebanyak tiga kali sehari.  Sedangkan untuk membesarkan payudara, gunakan hulbah sebanyak  3 sampai dengan 5 miligram hulbah 3x sehari.  Atau campurkan hulbah bersama air hangat secukupnya, lalu aduk hingga menjadi krim, selanjutnya balurkan pada payudara dan pijat selama 20 menitan untuk merangsang hormon dan membantu membesarkan payudara, kemudian bersihkan dengan air hangat. Untuk merawat kulit, pemijatan dan penyakit kulit, dapat dilakukan dengan cara mencampurkan hulbah ke dalam air putih hingga menjadi krim, lalu balurkan pada bagian tubuh yang diperlukan ((Al-Habori M., et all 1998;  Sauvaire, Y.,et all, 1991). 
Selain mengobati kencing manis, paru-paru, sesak nafas, asthma serta seperti yang telah diuraikan di atas, hulbah juga dapat membuang racun dalam tubuh (detoksifikasi),  menstabilkan kadar kolesterol, mengobati rheumatik, asam urat, radang tenggorokan, nyeri sendi, serta juga dapat mengobati tumor dan kanker.  Masih banyak lagi khasiat tentang hulbah baik untuk  kesehatan maupun kecantikan, namun untuk diuraikan lebih lanjut perlu kajian lebih luas lagi, karena begitu banyaknya manfaat hulbah. 
PENUTUP

Hulbah disebut sebagai senyawa sejuta manfaat, karena banyak mengandung senyawa yang sangat penting bagi kesehatan dan kecantikan manusia, mengandung steroid yang  berfungsi memfasilitasi sintesis dari banyak hormon serta mengoptimalkan efek hormon dalam tubuh, termasuk hormon sexual. Hulbah juga sangat bermanfaat bagi peningkatan ASI bagi ibu menyusui, selain itu juga berkhasiat sebagai anti berbagai penyakit yang banyak diderita manusia, antara lain diabetes, kanker dan lain-lain.  Di Indonesia belum terdengar ada penanaman hulbah, padahal tentu Indonesia berpotensi sekali untuk pengembangan tanaman hulbah, terutama dibawah naungan sebagai tanaman tumpang sari dengan tegakan hutan.  Semoga dengan adanya informasi ini ada yang tertarik untuk berbudidaya hulbah di Indonesia, sehingga kebutuhan hulbah Indonesia tidak tergantung dengan impor.


DAFTAR PUSTAKA

Al-Habori M, Al-Aghbari AM, and Al-Mamary M. (1998). Effects of fenugreek seeds and its extracts on plasma lipid profile: a study on rabbits. Phytother Res 1998;12(8):572-575

Al-Habori M and Raman A. (1998).  Antidiabetic and hypocholesterolaemic effects of fenugreek. Phytother Res 1998;12(4):233-242.

Akram Eidi,  Maryam Eidi & Mousa Sokhteh.  (2007).  Effect of fenugreek (Trigonella foenum-graecum L) seeds on serum parameters in normal and streptozotocin-induced diabetic rats.  Nutrition ResearchVolume 27, Issue 11, November 2007, Pages 728–733.


Devasena, T. and Menon, V. P. (2003).  Fenugreek affects the activity of beta-glucuronidase and mucinase in the colon. Phytother Res 2003;17(9):1088-1091.

Gupta A, Gupta R, Lal B. (2001).  Effect of Trigonella foenum-graecum (fenugreek) seeds on glycaemic control and insulin resistance in type 2 diabetes mellitus: a double blind placebo controlled study.  J Assoc Physicians India. Nov;49:1057-61.

Kaviarasan, S., Vijayalakshmi, K., and Anuradha, C. V. (2004).  Polyphenol-rich extract of fenugreek seeds protect erythrocytes from oxidative damage. Plant Foods Hum Nutr 2004;59(4):143-147.

Medically Reviewed by a Doctor. (2014).  Fenugreek (Trigonella foenum-graecum) – oral.  http://www.medicinenet.com/fenugreek_trigonella_foenum-graecum-oral/article.htm.  Diakses september 2013.

Nahid Sohrevardi dan Firouzeh Sohrevardi (2012). Essential oil composition and antioxidant activity of trigonella foenum graecum L. plant. Chemistry Department, Islamic Azad University- Ayat allah Amoli research center Branch.  International Journal of Agriculture and Crop Sciences Vol., 4 (12), 793-797, 2012

Nithya Neelakantan, Madanagopal Narayanan, Russell J de Souza and Rob M van Dam.  (2014).  Effect of fenugreek (Trigonella foenum-graecum L.) intake on glycemia: a meta-analysis of clinical trials.  Nutrition Journal 2014, 13:7.  licensee BioMed Central Ltd.

Parvizpur, A., Ahmadiani, A., and Kamalinejad, M. (2004).  Spinal serotonergic system is partially involved in antinociception induced by Trigonella foenum-graecum (TFG) leaf extract. J Ethnopharmacol 2004;95(1):13-17)
Ruby, B. C., Gaskill, S. E., Slivka, D., and Harger, S. G. (2005).  The addition of fenugreek extract (Trigonella foenum-graecum) to glucose feeding increases muscle glycogen resynthesis after exercise. Amino Acids 2005;28(1):71-76.

Saber A. Sakr and Ezz M. El-Gamal.  (2011).  Effect of fenugreek (Trigonella foenum graecum) seeds on adriamycin-induced nephrotoxicity in albino rats.  Animal Biology, Volume 61, Issue 3, pages 303 – 317

 Sauvaire, Y., Ribes, G., Baccou, J. C., and Loubatieres-Mariani, M. M. (1991).  Implication of steroid saponins and sapogenins in the hypocholesterolemic effect of fenugreek. Lipids 1991;26(3):191-197
Shishodia, S. and Aggarwal, B. B. (2006).  Diosgenin inhibits osteoclastogenesis, invasion, and proliferation through the downregulation of Akt, I kappa B kinase activation and NF-kappa B-regulated gene expression. Oncogene 3-9-2006;25(10):1463-1473).

Sreeja S, Anju VS, Sreeja S. (2010). In vitro estrogenic activities of fenugreek Trigonella foenum graecum seeds.  Indian J Med Res. 2010 Jun;131:814-9.