Kamis, 19 November 2009

ARANG KOMPOS BIO AKTIF; TEKNOLOGI INOVATIF UNTUK MENUNJANG PEMBANGUNAN KEHUTANAN YANG BERKESINAMBUNGAN

ARANG KOMPOS BIO AKTIF;
TEKNOLOGI INOVATIF UNTUK MENUNJANG PEMBANGUNAN KEHUTANAN YANG BERKESINAMBUNGAN


I. PENDAHULUAN

Arang kompos bioaktif (ARKOBA) adalah gabungan antara arang dan kompos yang dihasilkan melalui teknologi komposting dengan bantuan mikroba lignoselulotik yang tetap bertahan di dalam kompos, mempunyai kemampuan agen hayati sebagai biofungisida untuk melindungi tanaman dari serangan penyakit akar, sehingga disebut bioaktif. Keunggulan lain dari ARKOBA adalah karena keberadaan arang yang menyatu dalam kompos, yang bila diberikan pada tanah ikut andil dan berperan sebagai agent pembangun kesuburan tanah, sebab arang mampu meningkatkan pH tanah sekaligus memperbaiki sirkulasi air dan udara di dalam tanah. Oleh sebab itu ARKOBA cocok dan tepat dikembangkan secara luas di Indonesia mengingat 2/3 dari lahan pertanian maupun kehutanan berada dalam kondisi masam (pH rendah), kritis dan marjinal akibat menurunnya kandungan bahan organik tanah yang tak bisa digantikan perannya oleh pupuk kimia. Pengembangan produksi ARKOBA saat ini minimal dapat memenuhi konsumsi lokal serta mendongkrak suksesnya program GERHAN yang berlangsung hingga tahun 2009 serta Go Organik 2010, serta yang tidak kalah pentingnya yaitu solusi tepat untuk mengatasi persoalan sampah kota.
Produk ini dibuat atas dasar pemikiran bahwa perlu ditingkatkan optimalisasi dan pemanfaatan limbah di sektor kehutanan yang selama ini menjadi sumber polutan terutama serbuk gergaji pada berbagai industri perkayuan, juga masih tingginya volume limbah pada saat pemanenan hutan. Selain itu, saat ini yang tidak kalah pentingnya adalah alternatif dan solusi tepat untuk mengatasi persoalan sampah kota. Karena penerapan teknologi ARKOBA pada pengelolaan sampah, dapat dilakukan oleh siapa saja, karena merupakan teknologi inovatif, tepat guna, serta mudah dilakukan oleh masyarakat. Dapat dikelola oleh perorangan, kelompok, badan usaha, atau bahkan skala pabrik. Hanya perlu kesadaran yang tinggi serta ketekunan agar dapat berjalan lancar dan berkesinambungan.
Penerapan teknologi ini sudah diuji cobakan di TPA Bangkonol, Pandeglang, Banten dan TPA 1. Palembang (Sum-sel) pada tahun 2004. Hasil yang diperoleh telah diaplikan di lahan areal GERHAN baik di Pandeglang, Banten, maupun wilayah Palembang. Selain itu secara perorangan sudah diuji cobakan juga di TPA Bantar Gebang, TPA Kota Padang, dan Bogor, dan penggunaan aktivator khusus sampah organik kota juga telah dilakukan di TPA, Btr Gebang.


Kata kunci : limbah, arang kompos, bio aktif, lahan kritis, GERHAN

===========================================================
1) Disampaikan sebagai Substansi Materi Pada Acara Pelatihan Pembuatan Arang Terpadu tanggal 6 – 11 Mei 2008 di Kadipaten, Kerjasama antara Puslitbang Hasil Hutan dan BDK Kadipaten.
2) Peneliti Utama, pada Puslitbang Hasil Hutan, Jl. Gunung Batu, No.5. PO. Box 182. Bogor. Telp/Fax (0251) 633378 -633413



II. MENGENAL ARANG KOMPOS BIO AKTIF (ARKOBA)

Arang kompos bioaktif adalah salah satu produk lanjutan dari arang. Merupakan gabungan antara arang dan kompos yang dihasilkan melalui proses pengomposan. Inovasi produk ARKOBA dilatar belakangi oleh perbandingan dari beberapa hasil uji coba pengamatan pertumbuhan tanaman yang ditanam pada beberapa jenis media arang serbuk gergaji. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pertumbuhan tanaman yang ditanam pada media campuran arang serbuk gergaji dan kompos, sehingga sejak tahun 1999 kelompok peneliti PKEHH (Pengolahan Kimia dan Energi hasil Hutan) Puslitbang Teknologi Hasil Hutan mulai mengembangkan produk arang kompos dengan bahan baku utama arang adalah serbuk gergaji, sedangkan bahan baku kompos dapat berasal dari limbah organik pertanian, serasah mangium, serasah tusam, dan serasah campuran dari beberapa jenis pohon.
Tujuan penambahan arang pada proses pengomposan adalah selain meningkatkan kualitas dari kompos tersebut, juga diharapkan dengan adanya arang pada pengomposan akan menambah jumlah dan aktivitas mikroorganisme yang berperan, sehingga proses dekomposisi dapat berlangsung lebih cepat. Arang bersifat sebagai soil conditioner di dalam tanah. Dari beberapa sumber mengemukakan bahwa dengan hanya penambahan arang pada media tumbuh tanaman, dapat meningkatkan perkembangan mikroorganisme positif di dalam tanah, sehingga pertumbuhan tanaman jadi terpacu. Diantaranya adalah: endo dan ektomikoriza pada tanaman kehutanan, rhizobium pada tanaman pertanian. Hal ini terjadi akibat kondisi optimal yang tercipta bagi perkembangan mikro-organisme di dalam tanah.
Beberapa tahun terakhir Badan Litbang Kehutanan bekerja sama dengan JICA, telah melakukan penanaman hutan di beberapa lokasi di Jawa Barat dengan menambahkan arang di setiap lobang tanam. Hasil yang ditunjukkan cukup memuaskan, dan baik untuk diterapkan, serta sangat positif mendukung program Dephut dalam pencapaian target rehabilitasi, atau penghijauan/penanaman kembali hutan yang telah rusak. Sehingga perlu didukung oleh instrumen kebijakan Departemen.


Gambar 1. Arang berperan sebagai pembangun kesuburan tanah (soil conditioning)


Berdasarkan sifat serta fungsi arang, maka sejak tahun 1999, Puslitbang Hasil Hutan mulai mengembangkan pemanfaatan arang pada teknologi komposting. Hal ini juga didasari oleh penelitian-penelitian yang menyimpulkan bahwa arang baik dicampurkan pada saat proses komposting, atau jika terdapat kendala, maka arang diberikan pada saat proses komposting selesai, maka pada awalnya dinamai Arang Kompos. Selanjutnya hasil dari beberapa pengamatan, menunjukkan bahwa setelah arang kompos diaplikasikan, mikroorganisme yang digunakan sebagai aktivator yang masih tersimpan pada arang kompos, berfungsi sebagi fungisida hayati (biofungisida) untuk mencegah penyakit busuk akar pada tanaman, sehingga selanjutnya diberinama Arang Kompos Bio Aktif (ARKOBA).

Manfaat arang kompos bioaktif (ARKOBA)
o Arang kompos dapat ditingkatkan menjadi pupuk organik melalui pengkayaan unsur hara dengan bahan-bahan organik alam.
o Memacu perkembangan mikroorganisme tanah, meningkatkan nilai kadar tukar kation (KTK) tanah, pH tanah pada tingkat yang lebih sesuai bagi pertumbuhan tanaman, sehingga cocok untuk reklamasi lahan yang mempunyai tingkat kesuburan dan keasaman tanah yang rendah.
o Arang kompos mempunyai sifat yang lebih baik dari kompos karena keberadaan arang yang menyatu dalam kompos. Morfologi arang yang mempunyai pori sangat efektif untuk mengikat dan menyimpan hara. Hara tersebut dilepaskan secara perlahan sesuai dengan konsumsi dan kebutuhan tanaman (efek slow release). Karena hara tersebut tidak mudah tercuci, lahan akan selalu berada dalam kondisi siap pakai.
o Penggunaan arang kompos merupakan upaya untuk menjaga stabilitas bahan organik tanah agar kelestarian produktivitas tanaman terjaga. Baik diterapkan untuk mencapai keberhasilan pembangunan hutan tanaman serta mendukung kesinambungan dan kelestarian hutan, sekaligus program GERHAN.
Bahan baku yang dapat dibuat arang sebagai pencampur arang kompos antara lain: serbuk gergaji sekam padi, kulit kayu, limbah pertanian dan perkebunan seperti tongkol jagung, tempurung kelapa/kelapa sawit. Bahan yang dapat dibuat untuk kompos antara lain: Serbuk gergaji, serasah tumbuhan hutan/dedaunan seperti, serasah tusam, serasah mangium, atau campuran limbah organik pertanian seperti, limbah sayuran, jerami, kulit atau tongkol jagung, sampah organik pasar, atau kotoran hewan.

III. APLIKASI

Prospek masa depan pengomposan di Indonesia seperti umumnya peluang bisnis di Indonesia, baik usaha skala kecil, menengah maupun skala usaha besar jika memang memungkinkan apapun bisa dilakukan. Sebenarnya peluang pemanfaatan bahan organik untuk produk kompos di Indonesia cukup terbuka lebar. Berbagai penelitian dan risetpun sebenarnya telah banyak dilakukan oleh berbagai instansi resmi, lembaga tertentu atau institusi akademisi/ universitas. Namun sayangnya belum dapat terkoordinasi dan teraplikasi untuk mencapai sasaran yang tepat. Tanpa adanya suatu jaringan dan keterbukaan dalam pengelolaan limbah untuk dapat dipakai sebagai produk yang bermanfaat, misalnya melalui waste exchange atau bursa limbah, maka pengelolaan tersebut akan selalu menjadi cost center, bukan suatu profit center. Indikasi permasalahan saat ini adalah peluang agar supaya teknologi ini dapat teraplikasi meski dengan dasar bisnis kerakyatan tetapi dasar kelestarian, kepedulian, dan manfaat merupakan hal yang perlu lebih dikemukakan serta ditonjolkan.


Gambar 2. Aplikasi Arang Kompos Bioaktif pada tanaman cabai merah serta komposisi
unsur hara makro dari beberapa jenis limbah.

Prospek masa depan aplikasi teknologi arang kompos di Indonesia merupakan salah satu peluang bisnis, baik usaha skala kecil, menengah maupun skala usaha besar. Banyak peluang yang mungkin diisi oleh produk ini seperti di sektor kehutanan, kegiatan Gerhan yang akan berlangsung sampai tahun 2009, Go Organik 2010 oleh Deptan, serta meningkatnya trend gaya hidup masyarakat yang lebih memilih produk-produk organik yang aman dan sehat, menuntut penyediaan bahan/pupuk organik berkualitas.
Dari beberapa uji coba pemberian arang kompos pada tanah selain dapat menambah ketersediaan unsur hara tanah, memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologis tanah, juga dapat meningkatkan pH tanah dan nilai KTK tanah, sehingga cocok digunakan untuk rehabilitasi/reklamasi lahan-lahan kritis, masam yang makin meluas di Indonesia. Dari beberapa aplikasi arang kompos yang telah diuji cobakan, baik di laboratorium, maupun di lapangan menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman yang diberi arang kompos meningkat hingga 2 kali lipat dibanding dengan yang tidak diberi arang kompos.
Aplikasi arang kompos bioaktif yang telah dilakukan selain di Kabupaten Garut adalah di Ciloto (KPH Cianjur), pada tanaman pak choi, brokoli, dan wortel. Hasil yang diperoleh dalam satuan luas 400 m persegi, produksi meningkat 1, 5 kwintal, jika dibandingkan dengan pupuk yang yang biasa digunakan oleh petani seperti bokasi, selain itu juga mengurangi penggunaan pupuk kimia sebesar 40 %.


Gambar 3. Aplikasi Arang Kompos Bioaktif pada tanaman pertanian
(brokoli,pak choi, wortel, dll) di ciloto, kab Bogor.


IV. ARANG KOMPOS BIOAKTIF SEBAGAI PEMBANGUN KESUBURAN TANAH DAN PEMACU PERTUMBUHAN TANAMAN

Bahan organik tanah bukan hanya berfungsi sebagai pemasok hara, tetapi juga berguna untuk menjaga kehidupan biologis di dalam tanah. Oleh sebab itu untuk membangun kembali kesuburan lahan diperlukan suatu inovasi teknologi. Salah satu teknologi yang dapat diterapkan adalah dengan penambahan arang. Hal ini dimungkinkan karena arang mempunyai pori yang efektif untuk mengikat dan menyimpan hara tanah yang akan dilepaskan secara perlahan sesuai konsumsi dan kebutuhan tanaman (slow release). Selain itu arang bersifat higroskopis sehingga unsur hara dalam tanah tidak mudah tercuci dan lahan berada dalam keadaan siap pakai. Arang juga bersifat alkalis, sehingga tepat sekali digunakan untuk mendukung GERHAN yang sebagian besar target lahannya bersifat masam.
Arang kompos Bio Aktif merupakan salah satu produk lanjutan dari arang, merupakan gabungan antara arang dan kompos yang diproduksi melalui teknologi komposting dengan bantuan mikroba lignoselulotik yang tetap bertahan di dalam kompos, mempunyai kemampuan agen hayati sebagai biofungisida untuk melindungi tanaman dari serangan penyakit akar, sehingga disebut bioaktif.
Keunggulan lain dari ARKOBA adalah karena keberadaan arang yang menyatu dalam kompos, yang bila diberikan pada tanah ikut andil dan berperan sebagai agent pembangun kesuburan tanah, sebab arang mampu meningkatkan pH tanah sekaligus memperbaiki sirkulasi air dan udara di dalam tanah. Oleh sebab itu ARKOBA cocok dan tepat dikembangkan secara luas di Indonesia mengingat 2/3 dari lahan pertanian maupun kehutanan berada dalam kondisi masam (pH rendah), kritis dan marjinal akibat menurunnya kandungan bahan organik tanah yang tak bisa digantikan perannya oleh pupuk kimia.
Pengembangan produksi ARKOBA saat ini minimal dapat memenuhi konsumsi lokal serta mendongkrak suksesnya program GERHAN yang berlangsung hingga tahun 2009 dan Go Organik 2010, serta yang paling penting adalah merupakan solusi tepat untuk mengatasi persoalan limbah, baik limbah kehutanan, perkebunan, pertanian, maupun sampah kota, yang akhir-akhir ini menjadi masalah serius dengan beberapa kejadian di TPA.
Inovasi produk arang kompos bioaktif dilatar belakangi oleh perbandingan dari beberapa hasil uji coba pengamatan pertumbuhan tanaman yang ditanam pada beberapa jenis media arang serbuk gergaji. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pertumbuhan tanaman yang ditanam pada media campuran arang serbuk gergaji dan kompos, sehingga sejak tahun 1999 Puslitbang Teknologi Hasil Hutan mulai mengembangkan produk arang kompos dengan bahan baku utama arang dari serbuk gergaji, sedangkan bahan baku kompos berasal dari limbah organik pertanian, serasah mangium, serasah tusam, dan serasah campuran dari beberapa jenis pohon.
Tujuan penambahan arang pada proses pengomposan, selain untuk meningkatkan kualitas dari kompos tersebut, juga diharapkan dengan adanya arang pada pengomposan akan menambah jumlah dan aktivitas mikroorganisme yang berperan, sehingga proses dekomposisi dapat berlangsung lebih cepat. Pembuatan arang kompos cukup mudah dan murah untuk diterapkan, baik skala kecil mupun skala lapangan atau pada areal tegakan hutan. Dari beberapa uji coba pemberian arang kompos pada tanah selain dapat menambah ketersediaan unsur hara tanah, memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologis tanah, juga dapat meningkatkan pH tanah dan nilai KTK tanah, sehingga cocok digunakan untuk rehabilitasi/reklamasi lahan-lahan kritis, masam yang makin meluas di Indonesia.
Beberapa hasil aplikasi skala laboratorium menunjukkan bahwa penambahan 20 % arang kompos serasah campuran pada media tanaman mengkudu sampai umur 4 bulan dapat meningkatkan pertumbuhan (tinggi dan diameter) tanaman sebesar 2,7 kali. Pada tanaman Gmelina arborea penambahan 20-30 % arang kompos serbuk gergaji meningkatkan pertumbuhan tanaman 2,2 kali sampai umur 3,5 bulan. Dan pada cabai merah dapat meningkatkan produksi buah pertama 4 kali (Gusmailina, dkk., 20001 & 2002).
Sejalan dengan program pengembangan tersebut, Puslitbang Teknologi Hasil Hutan, sejak tahun 2000 juga telah melaksanakan sosialisasi sekaligus peragaan pembuatan arang kompos di beberapa daerah di Jawa dan Sumatera yang dikemas dalam bentuk acara Gelar Teknologi dan Temu Lapang antara lain di Kabupaten Serang; Ciamis; Tasikmalaya; Garut; Pandeglang; Ciloto (KPH Cianjur); KRPH Jembolo Utara, Kota Semarang; dan Kabupaten Muaro Jambi, Propinsi Jambi. Hasil uji coba penggunaan arang kompos pada pembibitan pohon penghasil gaharu (Aquilaria malaccensis) dan bulian (E. zwageri) di pusat kebun bibit DISHUTBUN, Jambi selama 4 bulan meningkatkan pertumbuhan tanaman (tinggi dan diameter batang) 2-3 kali lebih baik dibanding tanpa penambahan arang kompos.

Gambar 4. Aplikasi Arang Kompos Bioaktif pada tanaman Gmelina di laboratorium

V. ARANG KOMPOS BIO AKTIF DARI SAMPAH KOTA

Akhir-akhir ini sampah di perkotaan makin menimbulkan masalah yang cukup serius, karena jumlahnya sangat besar dengan jenis yang bervariasi. Di negara maju, sampah organik yang berasal dari rumah tangga, kebun/perkebunan, pasar, pangkasan taman kota dan lain-lain dikelola secara cermat dan di daur ulang menjadi kompos yang bermanfaat sebagai bahan dasar pupuk organik. Dampak penggunaan kompos/pupuk organik ini, memiliki nilai yang lebih tinggi dari pupuk kimia terutama untuk dikonsumsi manusia sehari-hari karena lebih sehat dan bebas dari bahan beracun akibat kelebihan pemberian bahan-bahan kimia. Oleh sebab itu di negara maju kompos menjadi pilihan utama bagi para petani.
Di Indonesia, sampah masih terasa sebagai beban, baik bagi RT/RW, kelurahan, maupun dinas kebersihan, karena pembuangannya menimbulkan berbagai persoalan antara lain, menyangkut biaya, lahan, sarana transportasi, maupun masalah SDM. Kenyataan juga menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih memiliki kesadaran yang kurang terhadap persoalan sampah, sehingga dapat dilihat bahwa sampah menjadi penyebab timbulnya banjir bila hujan, karena memenuhi selokan/got maupun kali/sungai, sehingga air tidak dapat mengalir sebagaimana mestinya. Di wilayah pedesaan, sampah pertanian dan peternakan lebih berdaya guna, namun pengelolaannya belum optimal dan efisien sehingga manfaatnya belum terasa dibanding potensi yang ada.
Masalah sampah juga masalah bagi seluruh umat manusia, bukan hanya persoalan bagi Dinas Kebersihan, karena dampak pencemaran dari sampah yang tidak dikelola akan menimpa seluruh manusia yang ada. Dengan demikian, selain dituntut peran aktif dan kesadaran yang tinggi dari masyarakat, juga perlu teknologi inovatif yang dapat membantu menyelesaikan masalah sampah, sehingga sampah yang sebelumnya merupakan barang tak berharga, dijadikan sumberdaya hingga menjadi produk yang berharga dan bernilai, baik bagi lingkungan maupun kesehatan.
Dalam skala kecil cara ini telah diterapkan di TPA 1 kota Palembang dan TPA Bangkonol, Pandeglang, Banten.

VI. TPA sebagai emitter GRK, salah satu pemicu pemanasan global

Untuk mengaitkan sampah dengan Gas Rumah Kaca (GRK), maka perlu dijelaskan bahwa pemanasan global adalah gejala naiknya suhu permukaan Bumi akibat meningkatnya konsentrasi GRK. Enam jenis GRK utama adalah gas karbon dioksida (CO2), Methana (CH4), Nitrat oksida (N2O). Dalam laporan yang disusun oleh International Panel on Climate Change (IPCC) 1988, dilaporkan bahwa rata-rata temperatur global telah meningkat 0,6.% serta dilaporkan bahwa tahun 1990-an adalah dekade terpanas. Meningkatnya suhu bumi diperkirakan akan mengakibatkan terjadinya perubahan iklim dan kenaikan permukaan air laut. Menyadari besarnya ancaman pemanasan global, disepakati Kyoto Protocol 1997. Negara-negara industri-penyumbang GRK terbesar-berkomitmen menguranginya. Salah satu GRK yang berpengaruh adalah CH4 (methana). Kekuatannya dalam efek pemanasan global 23 kali lebih tinggi dari CO2. Untuk mengejar target pengurangan emisi GRK, produksi gas methana perlu dikendalikan. Berbagai sumber gas methana antara lain adalah rawa, TPA, penambangan gas alam, pembakaran biomassa. Dalam hubungannya dengan persampahan, TPA menjadi sumber gas methana karena adanya proses penguraian sampah oleh jasad renik.
Meningkatnya aktivitas dan jumlah penduduk, maka jumlah sampah juga akan meningkat. Timbunan sampah kota diperkirakan meningkat lima kali lipat tahun 2020. Kalau tahun 1995 jumlah rata-rata produksi sampah perkotaan di indonesia 0,8 kg per kapita per hari, tahun 2000 menjadi 1,0 kg, maka tahun 2020 diperkirakan 2,1 kg per kapita. Di Indonesia saat ini terdapat sekitar 450 TPA sebagai sumber emisi gas methana. Sebagai contoh, sampah sebanyak 1000 ton, dengan kandungan sampah organik 56 persen akan menghasilkan gas methana 21.000 ton setiap tahunnya atau setara dengan CO2 486.500 ton. Masyarakat Eropa sepakat tahun 2005 tidak membuang sampah organiknya langsung ke TPA. Sampah organik diolah terlebih dahulu agar gas tidak diproduksi dalam jumlah besar. Pengolahan dapat berupa insinerasi, pengomposan, dan produksi biogas. Pengomposan adalah proses yang dipilih oleh Global Environment Facility yang dianggap sesuai untuk diterapkan di Indonesia untuk mereduksi produksi GRK sekaligus untuk membantu perbaikan sistem pengelolaan sampah di Indonesia. Dengan demikian penerapan teknologi produksi ARKOBA memberi dampak yang multi use, serta juga demi ”kemaslahatan bumi dan ummat manusia”.

Gambar 5. Uji Coba dan demonstrasi pembuatan Arang Kompos Bioaktif dari sampah kota di Lingkungan TPA Bantar Gebang

VII. DISEMINASI

Pembuatan arang kompos cukup mudah untuk diterapkan pada masyarakat pedesaan dan sekitar hutan, dengan menggunakan bahan baku yang terdapat di sekitarnya. Sejalan dengan program pengembangan tersebut, Puslitbang Hasil Hutan, sejak tahun 2000 juga telah melaksanakan sosialisasi/diseminasi sekaligus peragaan pembuatan arang kompos di beberapa daerah di Jawa dan Sumatera yang dikemas dalam bentuk acara Gelar Teknologi dan Temu Lapang antara lain di Kabupaten Serang; Ciamis; Tasikmalaya; Garut; Pandeglang; Lw Liang; Ciloto (KPH Cianjur); KRPH Jembolo Utara, Kota Semarang; dan Kabupaten Muaro Jambi, Propinsi Jambi. Sebagian besar dana yang diperoleh untuk menunjang kegiatan ini bersumber dari dana Kerjasama P3THH dengan JIFPRO-Jepang. Kerjasama ini dimulai sejak tahun 2000 hingga tahun 2003/2004, sedang sebagai dana pendamping adalah dana DIK-S DPL. Pada bulan April 2006 kegiatan ini juga dilakukan di desa Karyasari, Kabupaten Lw Liang, Bogor. Produksi arang kompos bio aktif difokuskan untuk memacu produktivitas daun murbei untuk budidaya ulat sutera. Selain itu juga diaplikasikan pada budidaya nilam, pepaya, dan tanaman Melaleuca bracteata.

Gambar 6. Transfer teknologi Arang Kompos Bioaktif kepada Kelompok Tani Rimba Sejahtera di Desa Karyasari, Lw. Liang, Kab Bogor, serta aplikasi pada tanaman palawija, nilam dan tan. Kehutanan.

Salah satu daerah yang menggunakan Arang Kompos untuk menunjang program GNRHL 2003-2004 adalah Kabupaten Garut, yang telah mengembangkan arang kompos sebanyak 750 ton sampai dengan bulan April 2005. Arang kompos yang dihasilkan langsung digunakan pada persemaian bibit, serta sebagian juga sudah diaplikasi di lapangan dengan hasil yang memuaskan. Untuk itu bagi daerah-daerah lain yang akan menggunakan arang kompos sebagai sarana penunjang program GNRHL dapat mencontoh keberhasilan Kabupaten Garut. Kegiatan tersebut langsung dikelola oleh Dinas Kehutanan Kabupaten Garut bekerja sama dengan Koperasi Lestari DISHUT Kab. Garut.

VIII. EVALUASI APLIKASI ARANG KOMPOS BIOAKTIF DI KABUPATEN GARUT.
Menurut Kepala Dinas Kehutanan Kab. Garut Ir. Edi Muharam, yang dikemukakan pada saat kunjungan dan evaluasi tanggal 5-7 maret 2008 yang lalu antara lain :
• sekitar 7500 Ha Luas lahan Gerhan di Kab Garut th 2007, 50 % dari lahan tersebut ditanam dengan menggunakan Arang Kompos yaitu sekitar 1000 ton, sedangkan 50 % lagi disuplai oleh Bokasi. Hal ini karena produksi Arang kompos belum mencukupi untuk mensuplai seluruh lokasi Gerhan. Sedangkan rencana th 2008 arang kompos akan di tingkatkan produksinya yaitu mencapai 10.000 ton, dan diharapkan dapat mensuplai seluruh lokasi gerhan untuk th 2008.
• Kepala Dinas Kehutanan Kab Garut juga mengemukakan bahwa Teknologi Arang Kompos ini sangat dirasa manfaatnya. Beliau juga telah ikut mempromosikan untuk menggunakan Arang Kompos untuk rehabilitasi lahan Pertamina, serta KaDishut juga sangat mengharapkan bahwa untuk selanjutnya Arang Kompos Bio Aktif ini akan menjadi TRADE MARKnya Kab. Garut, melalui kebijakan yang akan dikeluarkan oleh Dishut bersama Pemda setempat, bahwa semua kegiatan budidaya, baik pertanian, perkebunan dan kehutanan harus menggunakan Arang Kompos.


• Untuk mendukung peningkatan produktivitas arang kompos bio aktif ini, LSM Gepak dan Dishut berharap dapat memproduksi bioaktivator sendiri, namun dengan teknologi yang lebih sederhana.
• Menurut pengamatan KaDishut Aplikasi Arang kompos di sektor kehutanan sangat signifikan, baik itu di persemaian (lokasi di Cilawu), maupun di lapangan (lahan gerhan) yang ditunjukkan dengan pertumbuhan tinggi dan diameter yang lebih baik dan lebih cepat, dibanding dengan lahan gerhan sebelumnya yang tidak menggunakan arang kompos.
• Bukti Arang kompos lainnya juga dikemukakan KaDisHut, yaitu pada tanaman hias di lingkungan kantor, dimana pertumbuhan tanaman Bougenville menjadi lebih baik setelah menggunakan arang kompos.

Selanjutnya dapat dikemukakan bahwa hasil peninjauan ke lapangan yaitu:
• Aplikasi Arang Kompos pada tanaman Kol di Cibeureum, menunjukkan bahwa penggunaan arang kompos sangat baik. Hal ini ditunjukkan dengan produksi Kol yang lebih besar dan lebih padat dengan kisaran berat 3-5 kg/buah. Padahal biasanya maksimum hanya 2kg/buah.


Gambar 8. Aplikasi Arang Kompos pada tanaman kol di Garut

• Aplikasi arang kompos pada tanaman hias (bunga ros/mawar dan algebra) menurut Pa Oih Sopandi sebagai pengelola, sangat bagus. Efek yang ditunjukkan adalah selain warna bunga dan daun lebih cerah dan tajam, juga lebih tahan (tidak mudah gugur), bahkan jika dibiarkan kelopak bunga sama sekali tidak rontok sampai kering.


Gambar 9. Aplikasi Arang Kompos Bioaktif pada tanaman hias

• Peninjauan aplikasi di lahan Gerhan di lokasi Ranca Salak, yang diusahakan oleh kelompok Baru Rangga yang diketuai oleh Pa Udin pada tanaman Suren, tahun tanam 2004. Rata-rata tinggi tanaman yang ditanam pakai arang kompos sekitar 6 m dengan diameter kl 15-20 cm, sedangkan yang tidak pakai arang kompos 3m. Pola tanam adalah tumpang sari dengan tanaman pepaya dipinggir lahan, dan di tengah dengan jagung, kopi, temu2an, pisang, dengan konsep penghasilan mulai dari bulanan dan tahunan.


Gambar 10. Aplikasi Arang Kompos Bioaktif pada lahan Gerhan di Kab. Garut

• Laporan dari Pa Badin yang mencoba menanam Tembakau dengan menggunakan arang kompos sangat bagus, dimana 3 pohon tembakau menghasilkan daun rajangan 7,5 ons, sedangkan yang tidak menggunakan arang kompos hanya 3 ons dari 3 pohon tembakau. Kebutuhan pupuk yang digunakan juga lebih efisien, dimana untuk arang kompos hanya menggunakan 24 karung untuk 2 kali pemakaian dengan dosis segenggam/pohon, sedangkan pupuk yang biasa digunakan mencapai 40 karung untuk 2 kali pemakaian. Lebar daun tembakau yang ditanam dengan arang kompos mencapai 60 x 80 cm, sedangkan yang menggunakan pupuk yang biasa dipakai hanya 20 x 30 cm. Pengeringan daun tembakau yang ditanam dengan menggunakan arang kompos juga lebih efisien, yaitu hanya perlu 3-4 hari pengeringan, sedangkan yang tidak menggunakan arang kompos memerlukan waktu sampai 30-40 hari. Aroma rajangan daun tembakau yang ditanam dengan arang kompos lebih tajam dibanding dengan aroma rajangan daun yang tidak pakai arang kompos.

VIII TEKNIK PEMBUATAN ARANG KOMPOS BIO AKTIF (ARKOBA)

1. Pembuatan Arang : pembuatan arang biasanya dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu: menggunakan tungku drum dan tungku semi kontinyu. Tungku drum digunakan untuk membuat arang tempurung kelapa, atau potongan-potongan kayu limbah. Sedangkan untuk membuat arang serbuk gergaji lebih cocok menggunakan tungku semi kontinyu (Gusmailina, dkk., 2002). Arang serbuk gergaji juga dapat digunakan langsung sebagai campuran pada media tumbuh tanaman, baik di dalam polybag maupun pada tanah. Arang serbuk gergaji yang dicampur dengan kotoran ternak (pupuk kandang) akan memberikan hasil yang lebih baik lagi dibanding jika hanya menggunakan arang saja.
2. Pembuatan arang Kompos :
a. Bahan arang : serbuk gergaji, sekam padi, kulit kayu, limbah pertanian/perkebunan (tongkol jagung, tempurung kelapa/kelapa sawit)
b. Bahan kompos : serbuk gergaji, serasah tumbuhan hutan/dedaunan seperti serasah tusam, serasah mangium, atau serasah campuran, limbah organik pertanian, limbah sayuran, jerami, kulit/tongkol jagung, sampah organic pasar dan kotoran hewan
Jika bahan baku yang akan dikomposkan berukuran besar sebaiknya digiling/dicacah dahulu dengan alat giling (chopper), golok atau parang sampai mencapai ukuran 2-3 cm
c. Aktivator : Berguna untuk mempercepat proses pengomposan dengan bahan aktif mikroorganisme. Jenis activator yang digunakan disesuaikan dengan jenis bahan baku yang akan dikomposkan. Untuk limbah yang sulit hancur disarankan menggunakan activator yang mengandung bahan aktif khusus mikroorganisme pengurai lignoselulosa diantaranya yang mengandung mikroorganisme Trichoderma dan Cytophaga sp.
d. Peralatan pengomposan : Proses pengomposan dapat berlangsung pada beberapa macam tempat seperti : kotak kayu dengan ukuran 1m x 1m x 1m, bak semen permanent, kombinasi bak semen dengan penutup kayu, dan kantong plastic jumbo.

Pembuatan arang kompos prinsipnya sama dengan pengomposan biasa yaitu melalui proses fermentasi, langkah-langkah pembuatan arang kompos adalah sbb:
o Pada bahan baku yang sudah dicacah ditambah arang serbuk sebanyak 10-30 % dari berat volume bahan yang akan dikomposkan;
o Tambahkan aktivator sebanyak 0,5-10 % tergantung jenis bahan yang akan dikomposkan,
o Aduk campuran hingga rata; tambahkan air hingga kondisi kadar air campuran bahan berkisar antara 20%-30 %;
o Masukkan ke dalam wadah pengomposan
o Khusus untuk bahan yang sulit hancur seperti limbah kehutanan, sebaiknya pada minggu ke dua, ke tiga dan ke empat dibalik kemudian di aduk ulang, tambahkan air bila kondisi agak kering;
o Pengukuran suhu dilakukan guna mengetahui apakah proses berjalan dengan sempurna. Proses berjalan dengan sempurna apabila pada minggu pertama dan ke dua suhu meningkat hingga mencapai 55 oC - 60 oC, lalu menurun pada minggu-minggu berikutnya. Apabila kondisi suhu sudah stabil berarti proses pengomposan sudah selesai dan kompos dapat dibongkar;
o Proses pengomposan berlangsung antara 2 sampai 10 minggu tergantung bahan baku yang digunakan, untuk limbah sayuran/dedaunan segar pengomposan berlangsung selama 2 minggu, pengomposan serasah dedaunan kering berlangsung selama 1 bulan, sedangkan serbuk gergaji selama 2-3 bulan;
o Secara visual kompos yang sudah matang akan mengalami perubahan warna, sedangkan indikator kompos yang siap pakai yaitu mempunyai nisbah C/N di bawah atau sama dengan 20;
o Untuk menambah daya tarik penampilan, kompos digiling hingga halus kemudian dikemas lalu disimpan ditempat yang kering dan teduh;
o Arang kompos siap digunakan atau dipasarkan.



Pembuatan arang kompos juga dapat dilakukan di areal tegakan hutan. Bahan baku yang dapat digunakan berupa limbah pemanenan hutan. Ranting dan cabang yang tertinggal dijadikan arang kemudian sebagai bahan untuk kompos adalah dedaunan segar atau serasah. Proses pengomposan dapat dilakukan dengan jalan membuat lobang persegi atau lobang sepanjang larikan sedalam 0,5 m. Lobang ini sebelumnya dialas dengan plastik agar proses pengomposan tidak ada kontak langsung dengan tanah, kemudian semua bahan yang akan dikomposkan dimasukkan ke dalam lobang lalu ditutup lagi dengan plastik, kemudian biarkan sampai kompos terbentuk. Kompos yang terbentuk kemudian dapat dibongkar lalu dipindahkan, atau dibiarkan sebagai pengganti pupuk pada penanaman berikutnya.

Gambar 11. Serasah mangium sebagai bahan baku Arang Kompos bioaktif yang dapat di proses di antara tegakan.


IX. KARAKTERISTIK BAHAN ORGANIK YANG DIKOMPOSKAN
Karakteristik umum dari inventarisasi bahan organik atau limbah padat organik yang akan dikomposkan merupakan bahan organik alami yang tingkat degradability dari masing-masing jenis limbah tersebut cukup bervariasi, C/N ratio sangat bervariasi, tergantung jenis limbahnya. Limbah organik sampah yang diolah di TPA umumnya berasal dari taman, kebun, pasar, kota, dan rumah tangga. Keseragamannya relatif rendah, sehingga jika dibiarkan tidak dapat segera terjadi proses dekomposisi dengan sendirinya tanpa adanya bantuan starter / inoculum / ragi / bioaktivator. Untuk itu dibutuhkan aktivator dalam jumlah tertentu untuk proses start-up. Aktivator selain berfungsi sebagai starter, pada kondisi optimal dapat memepercepat proses dekomposisi, sehingga waktu yang dibutuhkan lebih singkat. Aktivator yang digunakan adalah hasil pengembangan dari Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI) Bogor, yang khusus diperuntukkan bagi limbah lignoselulosa. Aktivator ini berbahan aktif mikroorganisme perombak yaitu fungi Trichoderma pseudokoningii dan bakteri Cytophaga sp. Kelebihan dari aktivator ini bekerja pada suhu thermofilik, yaitu suhu 50 oC sampai 60 oC atau bahkan lebih. Kondisi suhu tinggi yang tercipta ini dapat membunuh organisme patogen serta mematikan bibit-bibit gulma yang terdapat pada bahan baku yang akan dikomposkan, sehingga kompos yang dihasilkan boleh dikatakan higienis. Selain itu kompos yang dibuat dengan aktivator ini, kelak bila digunakan pada tanaman, mikroorganisme yang tadinya berfungsi sebagai perombak bahan lignoselulosa, di dalam tanah akan berfungsi sebagai fungisida alami, karena dapat melindungi akar tanaman serta mencegah penyakit busuk akar, sehingga produk yang dihasilkan bersifat bio aktif.

X. PENGEMBANGAN, EFISIENSI APLIKASI ARANG KOMPOS BIOAKTIF

Aspek teknis yang terpenting pada pertanian maupun kehutanan yang berkelanjutan diantaranya adalah peningkatan efisiensi pupuk. Maksudnya untuk mengurangi volume pemakaian pupuk serta biaya produksi tanpa mempengaruhi produksi. Namun kebutuhan bahan organik maupun pupuk organik untuk mendukung budidaya organik jauh lebih besar dibanding jika menggunakan pupuk kimia, biasanya berkisar antara 2 – 20 ton per hektar. Sehingga menimbulkan masalah bagi petani karena biaya produksi jadi meningkat. Oleh sebab itu pengolahan lanjutan dari bahan/pupuk organik perlu dilakukan agar volume menjadi sedikit serta mudah dalam transportasi tetapi tetap memiliki efek yang sama. Bahan organik seperti kompos, arang kompos, pupuk kandang atau pupuk organik yang berbentuk serbuk, perlu dirobah bentuknya sehingga menjadi lebih padat dengan cara cetak dan press. Pupuk terutama pupuk organik akan lebih efisien jika bentuknya dipadatkan, karena akan lebih mengurangi resiko tercuci/hilang dalam aplikasinya. Selain itu volume akan lebih sedikit jika menggunakan pupuk yang telah dipadatkan, tetapi tidak mengurangi kualitas dari pupuk tersebut, sehingga dalam aplikasi juga tetap akan memberikan respon yang sama.
Tablet, maupun briket media yang dibuat dari arang kompos dan pupuk organik diharapkan dapat menunjang kegiatan GERHAN yang pelaksanaannya hingga tahun 2009. Aplikasi tablet arang kompos dan pupuk organik, diharapkan lebih efisien dan ekonomis jika dibandingkan apabila aplikasinya secara konvensional tanpa dicetak. Aplikasi tablet dan briket media, akan memudahkan penanaman terutama untuk areal target yang sulit dijangkau, sehingga operasionalnya dapat menggunakan alat sistem kabel layang. Briket media yang berisi bibit tanaman dapat disebar secara otomatis yang diatur penempatannya sesuai dengan jarak tanam yang diinginkan, selain itu produk ini juga diperuntukkan untuk media tanaman anggrek.

Gambar 12. Pengembangan dalam rangka efisiensi Arang Kompos Bioaktif

Gambar 13. Briket Media Arang Kompos Bioaktif


XI. PENUTUP
Target produksi ARKOBA yaitu : pertama, meningkatkan efisiensi industri pengolahan kayu melalui pemanfaatan limbah. Ke dua, volume serasah daun di areal hutan tanaman cukup tinggi. Serasah daun tusam (Pinus merkusii) dan mangium (Acacia mangium) masing-masing mencapai 12,56 - 16,65 ton/hektar dan 8-9 ton/hektar. Pada musim kemarau dan kering dapat menjadi pemicu kebakaran hutan. Ke tiga, meningkatnya aktivitas dan jumlah penduduk, maka jumlah sampah juga meningkat. Timbunan sampah kota diperkirakan meningkat lima kali lipat tahun 2020. Kalau tahun 1995 jumlah rata-rata produksi sampah perkotaan di indonesia 0,8 kg per kapita per hari, tahun 2000 menjadi 1,0 kg, maka tahun 2020 diperkirakan 2,1 kg per kapita. Di Indonesia terdapat sekitar 450 TPA sebagai sumber emisi gas CH4 (methana). Sebagai contoh, sampah sebanyak 1000 ton, dengan kandungan sampah organik sekitar 56% akan menghasilkan gas methana 21.000 ton setiap tahunnya atau setara dengan CO2 486.500 ton. Kekuatan efek CH4 dalam pemanasan global 23 kali lebih tinggi dari CO2. International Panel on Climate Change (IPCC) 1988, melaporkan bahwa rata-rata temperatur global telah meningkat 0,6.%, dilaporkan bahwa tahun 1998 adalah dekade terpanas. Meningkatnya suhu Bumi diperkirakan akan mengakibatkan terjadinya perubahan iklim dan kenaikan permukaan air laut.Untuk mengejar target pengurangan emisi GRK, maka produksi gas methana perlu dikendalikan. Komposting merupakan proses yang dipilih oleh Global Environment Facility yang dianggap sesuai untuk diterapkan di Indonesia untuk mereduksi produksi GRK sekaligus untuk membantu perbaikan sistem pengelolaan sampah di Indonesia. Dengan demikian penerapan teknologi produksi ARKOBA memberi dampak yang multi use, dan demi ”kemaslahatan bumi dan ummat manusia”.
Pengembangan dalam rangka efisiensi Arang kompos bioaktif dapat dilakukan dengan mencetak jadi briket media arang kompos bioaktif. Produk ini merupakan pengembangan lebih lanjut guna memenuhi tuntutan bahwa dalam aplikasi Gerhan (Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan) terdapat kendala penanaman pada lahan target yang sulit dijangkau, sehingga tidak ekonomis apabila bibit dibawa dengan menggunakan tenaga manusia. Produk ini dirancang sebagai media bibit sekaligus pengganti polybag, sehingga dalam operasional pada lahan sulit dapat dilakukan dengan menggunakan kabel layang. Briket media ini berukuran tinggi 10 cm, diameter 5 cm. Di tengah-tengah terdapat lobang untuk penempatan biji tanaman. Prakiraan media ini cukup sampai bibit berumur 4-5 bulan, sampai bibit siap tanam di lapangan. Briket media arang kompos bioaktif ini merupakan terobosan baru untuk menunjang kegiatan GERHAN, dipakai sebagai pengganti polybag sehingga tidak perlu membuka polybag sewaktu penanaman.



DAFTAR BACAAN

Allen, P. and D. van Dusen. 1988. Sustainable agriculture: Choosing the future. In: Global perspective on agroecology and sustainable agricultural systems. University of California, Santa Cruz, CA, USA.

Anonim. 1990. Organic farming. Principles of organic farming. Stated by international federation of organic Agriculture movements. USA.

Away, Yufnal, 2003. Uji coba penggunaan bioaktivator “orgadec plus” pada sampah kota di TPA Bantar Gebang. Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia. Bogor

Gusmailina, S.Komarayati dan T. Nurhayati. 1990. Pemanfaatan residu fermentasi padat sebagai kompos pada pertumbuhan anakan Eucalyptus urophylla, Jurnal Penelitian Hasil Hutan. (4):157-163
Gusmailina, G. Pari., and S. Komarayati. 1999. Teknologi penggunaan arang dan arang aktif sebagai soil conditioning pada tanaman. Laporan Proyek.Pusat Penelitian dan Pengembangan hasil Hutan. Bogor

Gusmailina, G. Pari dan S.Komarayati. 1999. Teknologi penggunaan arang dan arang aktif sebagai soil conditioning pada tanaman kehutanan. Laporan proyek. Pusat Penelitian Hasil Hutan, Bogor (Bahan publikasi).

Gusmailina, G. Pari, dan S. Komarayati. 2001. Teknik penggunaan arang sebagai soil conditioning pada tanaman. Laporan hasil penelitian (tidak diterbitkan)
Gusmailina, G. Pari, dan S. Komarayati. 2001. Laporan kerjasama penelitian P3THH – JIPFRO. Bogor (tidak diterbitkan)
Gusmailina, G. Pari, dan S. Komarayati. 2002. Laporan kerjasama penelitian P3THH – JIPFRO. Bogor
Gusmailina, G. Pari., and S. Komarayati. 2002. Implementation study of compos and charcoal compost production. Laporan Kerjasama Puslitbang Teknologi hasil Hutan dengan JIFPRO, Jepang . Tahun ke 3. Bogor (Tidak dipublikasi).

Gusmailina, Gustan Pari dan Sri Komarayati. 2002. Pedoman Pembuatan
Arang Kompos. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi hasil Hutan.
Badan Penelitiandan dan pengembangan Kehutanan. Bogor. ISBN: 979-3132-27

Gusmailina, Sri Komarayati dan G. Pari. Pengembangan Teknologi Arang Kompos Bioaktif di
TPA (tempat Pembuanagan Akhir) Dalam Rangka Pengurangan Dampak Pemanasan
Global. Makalah pada seminar MAPEKI. Fakultas Kehutanan, Universitas tanjung Pura.
Kalimanatan. 2007.

Gusmailina. 2007. Mengeliminasi Kemungkinan Kegagalan GERHAN Melalui Teknologi dan
Aplikasi Arang Kompos Bioaktif. Buku panduan dalam rangka Pelatihan Peningkatan
Kualitas arang Kompos Bioaktif di Kabupaten Garut. Kerjasama Dinas kehutanan Kab
Garut dengan KopKar GEPAK Wira Satria Sejati. Desember 2007.

Gusmailina. 2007. Pembuatan arang dan arang kompos dari limbah PLTB. Makalah pada
Acara Gelar Teknologi PLTB (Penyiapan Lahan Tanpa Bakar). Kerjasama. Puslitbang
Hutan Tanaman dan Balai Penelitian Kehutanan Palembang. Nopember 2007



Sri Komarayati, Gusmailina dan G. Pari. 2002. Pembuatan kompos dan arang kompos
dari serasah dan kulit kayu tusam. Buletin Penelitian Hasil Hutan. Vol. 20 No. 3.
Halaman 231 – 242. Bogor

Reintjes, C., Haverkort, B., Bayer. W., 1999. Pertanian masa depan. Pengantar untuk pertanian berkelanjutan dengan input luar rendah. Penerbit Kanisius. Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar