Selasa, 08 Maret 2016

KAJIAN ASPEK BIOFARMAKA EKSTRAK DAN MINYAK ATSIRI DAUN Psidium guajava



KAJIAN ASPEK BIOFARMAKA EKSTRAK DAN MINYAK ATSIRI
DAUN Psidium guajava *)

Oleh :

Gusmailina **) , Sri Komarayati **) & Umi Kulsum ***)


Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan (PUSTEKOLAH), Badan Litbang Kehutanan,  Jalan Gunung Batu No. 5. Telp/Fax (0251) 8633378; 8633413. Bogor. Email : gsmlina@gmail.com



RINGKASAN

Psidium guajava (jambu biji) adalah salah satu jenis yang termasuk ke dalam Familia Myrtaceae, yang memiliki khasiat yang sangat menakjubkan, baik itu buah maupun daunnya.  Tumbuhan ini tersebar merata di Indonesia mulai dari perkotaan hingga desa, serta pegunungan hingga hutan.  Daun jambu biji memiliki efek yang luar biasa karena dapat mengatur kadar glukosa dalam darah.  Beberapa studi menunjukkan bahwa ekstrak daun jambu memiliki efek preventif dan korektif pada hiperglikemia, serta memiliki dampak positif pada hati, dengan mengurangi jumlah tetesan lipid yang ditemukan dalam hati. Daun jambu biji mengandung semacam komponen yang dapat menyerang bakteri phatogen dan antibacteria, sehingga masyarakat lazim menggunakan sebagai anti diare.  Beberapa studi juga melansir bahwa daun jambu biji yang dicampur dengan herba lain dapat mengobati hipertensi bahkan penyakit stroke. Daun jambu biji memiliki efek menguntungkan pada miokardium penderita diabetes, serta komplikasi jantung yang diakibatkan oleh diabetes.  Hasil studi juga menunjukkan bahwa ekstrak daun jambu secara signifikan dapat menurunkan glukosa darah, hemoglobin terglikasi dan tingkat fruktosamin untuk jangka waktu satu bulan sehingga disimpulkan bahwa ekstrak daun jambu biji bermanfaat untuk mencegah komplikasi kardiovaskular pada kasus yang terkait dengan diabetes.   
Tulisan ini menyajikan informasi mengenai manfaat ekstrak daun jambu biji dan minyak atsiri yang disuling dari daun jambu biji varietas Crystal sekaligus informasi mengenai potensinya dalam aspek biofarmaka.  Daun jambu biji diambil dari daerah Bantar Kambing, Kabupaten Bogor.  Setelah kering angin daun disuling di laboratorium HHBK, Pustekolah Bogor. Dari hasil penyulingan diperoleh minyak yang berwarna kuning ke-emasan, dengan rendemen berkisar antara 0,6, 0,8 dan 1,2% serta mempunyai aroma yang khas.


Kata kunci :  Psidium guajava, daun jambu biji, destilasi, atsiri, potensi biofarmaka

=====================================================================================
*)     Disampaikan sebagai makalah poster pada Seminar Nasional XVII Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia (MAPEKI) 11 November 2014 di Hotel Garuda Plaza, Jalan Sisingamangaraja 18 Medan, Sumatera Utara. Indonesia.
**)     Peneliti pada PUSTEKOLAH (Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan), Badan Litbang Kehutanan, Kementerian Kehutanan.  Jalan Gunung Batu No. 5. Telp/Fax (0251) 8633378; 8633413. Bogor.
***)  Teknisi Litkayasa pada PUSTEKOLAH (Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan), Badan Litbang Kehutanan, Kementerian Kehutanan.  Jalan Gunung Batu No. 5. Telp/Fax (0251) 8633378; 8633413. Bogor.



I.         PENDAHULUAN


Psidium guajava atau lebih dikenal dengan nama jambu biji adalah salah satu jenis buah yang mudah didapatkan. Termasuk kedalam familia Myrtaceace yang keberadaannya melimpah terutama di negara tropis macam Indonesia. Tanaman jambu biji ini bisa dengan mudah tumbuh di mana saja, sehingga tumbuh subur di berbagai tempat liar tanpa perawatan sekalipun, mulai dari perkotaan, pedesaan hingga tepian hutan. Rasa buah ini cukup nikmat dan banyak digemari dari berbagai kalangan dan usia. Konsumsi buah jambu biji akan memberikan seseorang manfaat ganda. Selain nikmat di lidah, juga memberikan efek sehat bagi tubuh. Tak hanya itu, sesungguhnya bagian lain tanaman jambu biji juga memiliki beragam khasiat, bagian tersebut adalah daun jambu biji (DJB). Selama ini DJB banyak yang memanfaatkannya, hanya dibiarkan yang berujung sebagai limbah. Oleh sebab itu informasi mengenai manfaat DJB ini perlu disebar luaskan sebab ternyata manfaatnya sangat luar biasa.
Dalam beberapa tahun terakhir, minat dalam penggunaan aromaterapi semakin meningkat, hal ini karena inti penekanannya terutama pada anti-inflamasi dan sifat antioksidan dari minyak atsiri yang digunakan (F.Bakkali,S. Averbeck,D. Averbeck and M. Idaomar, 2008 dan B. Adorjan and G. Buchbauer, 2010). Dijelaskan juga berdasarkan penggunaan atsiri secara tradisional Cina dan Ayurvedic, tumbuhan keluarga  Myrtaceae sudah dikenal sebagai sumber yang kaya akan minyak atsiri berharga seperti minyak cengkeh, minyak pohon teh, minyak kayu putih, dan minyak Eucalyptus. Sebagian besar minyak ini memiliki relevansi obat dalam mengurangi gejala yang berhubungan dengan infeksi nasofaring infeksi, batuk dan hidung tersumbat, Tidak terkecuali atsiri DJB Psidium guajava.
Beberapa hasil penelitian mengemukakan bahwa DJB P. guajava mengandung berbagai zat aktif diantaranya adalah amritoside, aroma dendren, avicularin, beta-sitosterol, calcium-oxalat, caryopphyllen-oxide, catechol-tannins, crataegolic acid, guajiverin,  guaijaverin, guavin-a,b,c,d, guajivolic-acid, nerolidiol, oleanolic-acid, psidiolic-acid, quercetin, sugar, ursolic-acid, xantophyll, gallocatechin,ellagic-acid, fat, genticid-acid,  hyperocid, leucocyanidine, hyperocide, aslinic-acid.  Selanjutnya dijelaskan juga bahwa DJB P. guajava juga mengandung berbagai senyawa kimia  aktif diantaranya saponin, flavonoid, tri terpenoid, minyak atsiri, tanin, beta sitosterol da senyawa-senyawa lainnya (Duke, 2004). Berbagai zat yang terdapat dalam DJB seperti flavonoid menurut literature dapat  menghambat enzim aromatase yaitu enzim yang berfungsi mengkatalis konfersi androgen menjadi estrogen yang akan meningkatkan konsentrasi testosteron. Tingginya konsentrasi testosterone akan berumpan balik negative kehipofisis  yaitu tidak melepaskan FSH atau LH.


Gambar Daun Jambu Biji

Gambar 1.  DJB  (Psidium guajava) dari familia Myrtaceae sebagai sumber Biofarmaka yang potensial

II.  PROFILE TUMBUHAN Psidium guajava

Jambu Biji memiliki nama Latin Psidium guajava, merupakan tumbuhan yang berasal dari Brazil dan di sebarkan melalui Negara Thailand.  Tumbuhan ini merupakan salah satu anggota dari familia Myrtaceae, yang memiliki  sekitar 70 spesies yang tersebar di daerah tropis Amerika dan Asia.  Di Indonesia tumbuhan ini juga dikenal dengan sebutan jambu batu, jambu klutuk, jambu paraweh, dan lain sebagainya. Beberapa macam/kultivar jambu biji sebagian dikenal sejak lama di Indonesia, sebagian merupakan introduksi dari negara lain.diantaranya : Jambu biji kristal Taiwan, Jambu tanjung barat, Jambu biji getas merah, Jambu Australia, Jambu sukun, Jambu Bangkok, dan Jambu kristal (Wikipedia Indonesia). Tumbuhan ini memiliki buah yang berwarna hijau dengan daging buah berwarna putih atau merah dan berasa asam-manis, buahnya dikenal mengandung banyak vitamin C.Tumbuhan ini sudah sangat akrab bagi masyarakat Indonesia namun tidak bagitu banyak masyarakat yang mengetahui mengenai khasiat dari tumbuhan ini, baik buah maupun daunnya. Oleh karenanya pada tulisan ini diuraikan secara global tentang manfaat yang mengagumkan dari tumbuhan ini.
Berdasarkan beberapa penelitian klinis menunjukkan bahwa DJB  mengandung sejumlah senyawa penting antara lain: Saponin, Flavanoid, Polifenol, Alkaloid, Karoten, Steroid, Kuinon, Anti-oksidan, Minyak atsiri, Tannin, Senyawa anti-mutagenic, dan masih banyak lagi lainnya. Terkait sifatnya sebagai anti-oksidan, beberapa uji medis menemukan fakta bahwa DJB jambu biji putih lokal ternyata memiliki kandungan senyawa anti-oksidan yang jauh lebih tinggi ketimbang daun jambu biji berwarna merah.
Komponen kimia DJB terdiri dari 6 % fixed oil dan 0,3 % volatile oil.  Kandungan dari minyak atsiri DJB terdiri dari eugenol dan malic acid.  Daun mengandung 8-15 % tannin, buah mengandung 4.1 % sampai 4,35% glycogen, 1,6% sampai 3,4 % saccharosa. Akar tumbuhan jambu biji juga kaya dengan tannin (Basim A., dkk., 1994). Secara ilmiah klassifikasi tumbuhan ini dapat dilihat sebagai berikut :
Kingdom
:
Plantae
Order
:
Myrtales
Family
:
Myrtaceae
Subfamily
:
Myrtoideae
Genus
:
Psidium
Species
:
guajava
Binomial name
:

III.  MINYAK ATSIRI DAUN Psidium guajava  (MINYAK GUAVA)

                Minyak atsiri daun P. guajava diperoleh dengan cara menyuling daun atau destilasi uap.  Daun jambu biji yang disuling adalah varietas Crystal yang diambil dari perkebunan jambu biji Crystal di Bantar Kambing, Bogor.  Sebelum disuling daun dikering anginkan terlebih dahulu hingga diperkirakan mengandung kadar air 13-15 persen.  Selanjutnya disuling selama 7 jam di laboratorium HHBK, Pustekolah Bogor. Minyak atsiri yang diperoleh berwarna kuning keemasan bening dengan aroma yang khas dan nyaman.  Rendemen minyak yang diperoleh berkisar antara 0,8 hingga 1,2 %. Menurut Astika, dkk., (1986). Minyak atsiri DJB memiliki nilai indeks bias 1,497; rotasi optik +0,5 dan berat jenis 0,9054 yang masing-masing diukur pada suhu 20oC, 28oC, dan 30oC.
Di pasar internasional, minyak  atsiri DJB dikenal juga dengan sebutan  Minyak Guava, mempunyai sifat gastrointestinal dan antispasmodic, yang umumnya digunakan pada saat komplikasi pada penderita diare akut dan kronis, peradangan, kondisi jamur, serta menghilangkan rasa sakit. Minyak Guava ini  sangat berguna selama musim dingin dan musim flu. Aromanya yang kompleks, berbau yg berhubung dengan hutan dan eksotis dengan sedikit almond dapat meredakan dan membuat nyaman penderita.  Menurut Van Wyk and M. Wink ( 2004) dan El-Ahmady et.al., (2007) Sebagian besar minyak ini memiliki relevansi obat dalam mengurangi gejala yang berhubungan dengan infeksi nasofaring, batuk dan hidung tersumbat. Untuk mengetahui kandungan kimia minyak atsiri umumnya dilakukan dengan menggunakan GC (analisis kuantitatif) dan GC-MS (analisis kualitatif). Identifikasi komponen utama dilakukan dengan perbandingan dari kedua waktu retensi GC dan data MS terhadap standar acuan (dengan sumber diketahui) seperti yang dilaporkan sebelumnya oleh Lahlou et al., (2001), dan Lahlou dan Berrada (2003).
Komponen minyak atsiri DJB dianalisis dengan GC - MS secara kualitatif dan kuantitatif . Daunnya mengandung minyak tetap dan minyak atsiri . Daun P. guajava mengandung minyak esensial yang kaya cineol, tanin, triterpen, flavonoid, resin, tanin, eugenol, asam mallic, lemak, selulosa, klorofil, garam mineral dan sejumlah zat tetap lainnya ( Olajide et al., 1999; Burkill, 1997; Nadkarni dan Nadkarni, 1999) . Minyak esensial dengan komponen utama yang menjadi α - pinene , β - pinene , limonene , mentol , terpenyl asetat , isopropil alkohol , longicyclene , The volatil utama β - caryophyllene , ( E ) - nerolidol ( Ogunwande et al . , 2003) , β - bisabolene , caryophyllene oksida , β - copanene , farnesene , humulene , selinene , cardinene , curcumene ( Zhang et al . , 1994) , α - selinene , capaene , [ 1AR - ( 1a α - , 4a α - , 7 - α , 7a β - , α - 7b ) ] - . decahydro - 1 ,1,7 - trimetil - 4 - metilen - 1H - cycloprop [ e ] azulene , eucalyptol (Li et al , 1999) , α - caryophyllene dan δ - selinene ( Sagrero - Nieves et al., 1994) . Sampel minyak daun dibuat dari ekstrak pelarut menemukan mentol dan R - terpenyl asetat bersama dengan etanol dan propanol (Osman et al., 1975) Studi awal volatile daun diperiksa konsentrasi terpene dalam minyak guava untuk tujuan chemotaxonomy (Smith dan Siwatibau, 1975). Fraksi Atsiri kaya akan senyawa seskuiterpen. Lima puluh tujuh komponen termasuk 27 terpen (atau seskuiterpen) bersama dengan 14 alkohol dan ester 4 diidentifikasi diperoleh dari destilasi air dari daun guava (Pino et al., 2001a ) dan empat puluh dua konstituen termasuk 29 terpen hidrokarbon yang diamati di udara - kering dan uap suling minyak daun jambu dari Nigeria (Ogunwande et al., 2003). Di antara terpene limonene , β - caryophyllene . γ - bisabolene dan zingiberene nerolidiol , β - sitosterol , ursolat , crategolic , asam guayavolic , guajavolide dan asam guavenoic bersama dengan asam triterpen oleanolic diisolasi dari daun Psidium guajava L. (Pino et al , 2001a ; . Iwu 1993 ; Begum et al , 2002) . .
Laporan terbaru yang mengkonfirmasikan adanya β - caryophyllene , α - pinene dan 1,8 - cineole sebagai senyawa utama penting dalam minyak DJB (Chen dan Yen , 2007; . Ogunwande et al, 2003) . Selain itu, minyak esensial yang kaya cineol dan empat asam triterpenic serta tiga flavonoid ; quercetin , yang 3 - L - 4-4 - arabinofuranoside (avicularin) dan 3- L - 4 - pyranoside dengan aksi antibakteri yang kuat ( Bep , 1986) . Kami diidentifikasi flavanone - 2 2 - ena , prenol , dihidro benzophenanrhridine dan cryptonine . Keempat senyawa baru yang pertama kali diidentifikasi dari minyak esensial DJB (Joseph dan Priya , 2010). Laporan baru-baru ini diidentifikasi volatil senyawa baru yaitu sulfur , dimetil disulfida , dimetil trisulfide , benzothiazole , 3 - mercaptohexanol dan 3 - mercaptohexyl asetat . Dua senyawa ini sebelumnya belum pernah dilaporkan sebagai terjadi pada jambu (3 - merkapto - hexanol dan 3 - mercaptohexyl asetat) . Senyawa ini memiliki bau cassis -suka dan dianggap memberikan kontribusi penting terhadap bau jambu biji (Clery dan Hammond , 1998) Lebih lanjut dikemukakan bahwa studi lain menunjukkan bahwa volatil oil dari steam destilasi DJB yang masih muda menghasilkan rendemen 0,62 %.

Efek Farmasi Minyak Atsiri Guava Sebagai Antimikroba
Mekanisme bagaimana minyak atsiri sebagai antimikroba yang kemudian dapat menghambat aktivitas mikroorganisme melibatkan berbagai modus tindakan dan sebagian mungkin karena hidrofobik. Beberapa skrining antimikroba telah dilakukan secara selektif oleh peneliti yang berbeda dalam minyak atsiri guava. Sacchetti et al. (2005) melaporkan bahwa minyak atsiri guava menunjukkan resistensi yang kuat terhadap Yarrowia lipolytica (ragi patogen) . Efek antimikroba dari minyak guava diuji terhadap strain Staphylococcus aureus , Salmonella dan Escherichia coli yang diisolasi dari udang Seabob  Xiphopenaeus kroyeri. Ekstrak minyak guava menunjukkan aktivitas penghambatan terhadap S. aureus dan Salmonella sps. (Goncalves et al , 2008; Joseph et al , 2010), konsentrasi yang lebih tinggi dari senyawa kimia aktif dalam minyak guava menjelaskan tindakan penghambatan yang lebih kuat (Jaiarj et al, 1999; Neto et al , 1994). Baru-baru ini, dilaporkan minyak atsiri guava menunjukkan efek penghambatan terhadap Bacillus cereus, Enterobactor aerogenes, dan Pseudomonas fluorescens (Joseph et al., 2010). Kandungan utama minyak atsiri Guava terdiri dari monoterpen, 1,8 - cineol, ρ - Cimen dan asetat α – terpenil, sehingga Joseph et al., (2010) mengemukakan bahwa komposisi yang kompleks dari minyak atsiri guava merupakan sumberdaya dan potensi farmakologis yang besar untuk pengembangan obat baru.  Terkait dengan sifat farmakologis dari minyak atsiri guava tidak dipungkiri memiliki harga yang cukup mahal di pasar internasional yaitu sekitar Rp 200.000 per 5 ml. 
IV.  EKSTRAK DAUN Psidium guajava

Sebuah studi dari Southern Yangtze University di China mempelajari tingkat antioksidan dalam DJB, Ekstrak daun jambu biji telah ditemukan mengandung berbagai senyawa fenolik yang dapat bertindak sebagai antioksidan. Hasil analisis menunjukkan bahwa DJB mengandung sejumlah besar senyawa fenolik alami yang dikenal untuk bertindak sebagai antioksidan: asam tanat, asam procatechuic, anid caffeic, asam ferulic, trihidrat rutin, dan quercetin dehidrasi. Disimpulkan bahwa ekstrak DJB menunjukkan aktivitas antioksidan potensial dan ternyata mengkonsumsi ekstrak DJB baik untuk kesehatan (Chen and Yen, 2007).
Ekstrak DJB memiliki anticestodal (Tangpu dan Yadav, 2006), analgesik, sifat anti - inflamasi (Ojewole , 2006) , antimikroba (Roy et al., 2006) hepatoprotektif (Chen et al., 2006) dan aktivitas antioksidan (Nair dan Chanda, 2007). Selain itu, ekstrak daun digunakan dalam banyak sediaan farmasi sebagai obat penenang pada penderita batuk. Ekstrak mengandung flavonoid, terutama kuersetin derivatif, yang dihidrolisis dalam tubuh untuk memberikan quercetin aglikon yang bertanggung jawab untuk aktivitas spasmolitik daun ( Morales et al., 1994). Quercetin memiliki beberapa tindakan farmakologis; menghambat gerakan usus , mengurangi permeabilitas kapiler dalam rongga perut (Zhang et al, 2003) dan memiliki sifat antioksidan tergantung dosis (Nakamura et al, 2000), aktivitas anti - inflamasi (Havsteen, 1983; Middleton dan Drzewieki, 1984, 1985; Amella et al, 1985; Pearce et al, 1984; Busse et al, 1984; Yoshimoto et al., (1983), aktivitas antivirus dan antitumor (Murray dan Pizzorno, 1999; Mucsi dan Pragai, 1985; Kaul et al, 1985; Farkas et al, 1982;  Guttner et al, 1982; Kaneuchi et al, 2003). Banyak penelitian yang dilakukan oleh para ahli ditujukan terutama pada aspek fitokimia dan bioaktivitas minyak atsiri dari Psidium guajava L. sebagai potensi agen biologis dan farmakologis. Sehingga diharapkan memberikan informasi perspektif baru tentang potensi penggunaan minyak  atsiri DJB.


V. TEH DAUN GUAVA

DJB belum terbukti memiliki toksisitas apapun sehingga mengkonsumsi teh DJB sangat baik.  Cara membuat teh DJB yang biasa digunakan  yaitu dengan merebus atau mendidihkan air lalu masukkan DJB biarkan selama 10-20 menit dengan api yang tidak terlalu besar. Selanjutnya bisa dikonsumsi.  Cara lain yang dapat dilakukan juga adalah dengan cara mengeringkan DJB terlebih dahulu secara higienis, kemudian diseduh dengan air panas lalu siap diminum.  Secara laboratoris teh DJB juga dapat dibuat melalui ekstrak daun, kemudian diseduh dengan air hangat hingga semua ekstrak larut, lalu siap dikonsumsi.

ASPEK BIOFARMAKA

Secara umum berbagai sumber di Indonesia menyebutkan tentang beberapa khasiat DJB antara lain :
1.       Sebagai deodorant alami. Daun jambu dapat mengusir bau badan  sesegera mungkin. Dengan cara melumatkan DJB lalu oleskan pada ketiak. Bau badan akan hilang seketika. Hal ini telah dilakukan oleh nenek moyang kita sejak dahulu kala, juga telah dibuktikan secara medis.
2.       Mengobati penyakit diare. Dengan cara merebus daun sebanyak 30 gram dan tambahkan dengan tepung kurang lebih segenggam tangan Anda. Rebus dengan air sebanyak 1 sampai 2 gelas dan minum air rebusannya di pagi dan sore hari. Jika ingin lebih praktis, bisa langsung mengunyah daun jambu biji muda bersama sedikit garam dan langsung telan. Obat ini secara alami akan membantu mengusir diare Anda.
3.       Mengobati penyakit sariawan, 1 genggam DJB direbus bersama air sebanyak 1 liter dan tambahkan juga kulit batang jambu sebantak 1 jari anda. Minum air rebusannya secara teratur dua kali dalam sehari.
4.       Mengobati Luka dan Borok. Untuk menanggulangi kedua hal ini, cukup lumatkan DJB dengan cara dikunyah. Lalu tempelkan pada kulit yang luka.
5.      Mengobati Ambeien. Dengan cara menghaluaskan beberapa helai DJB muda tambah dengan pisang batu. kemudian airnya diambil dan diminum setiap harinya hingga penyakit sembuh.
6.      Mengusir kembung. Rebus DJB dengan 2 gelas air. Tambahkan ½ jari kulit dari pulosari dan adas sebanyak 5 butir. Rebus sampai airnya susut menjadi 1 gelas. Minum teratur setiap hari 1 cangkir hingga sembuh.

DAFTAR PUSTAKA
Astika, D.; Soetarto M; Asep G. S.; Sudana A. 1986.  Pemeriksaan Minyak Atsiri dan Asam Fenolat dari Daun Jambu Biji (Psidium guajava Linn., Myrtaceae).  Sekolah Farmasi ITB http://bahan-alam.fa.itb.ac.id
B.-E. Van Wyk and M. Wink, Medicinal Plants of the World.  2004.   An Illustrated Scientific Guide to Important
           Medicinal Plants and Their Uses. Timber Press, Portland (2004).

B. Adorjan and G. Buchbauer.  2010. Biological properties of essential oils: An updated review. Flavour Fragr. J., 25, 407426 (2010).

Basim Alsaafeen, N Ato; C. Calimlim; O. Favor;  R. M. Fortuno; R Ordonez; S. Santiano; C. Tecson; C. Venzon.  1994.  Volatile Oil From Guava Leaves (Psidium guajava Linn. ) its Antibacterial Property.  PSJ. Juli Desember.
Chen and Yen. 2007.  Antioxidant activity and free radical-scavenging capacity of extracts from guava (Psidium guajava L.) leaves,” Food Chemistry 101 (2007) 686-694.
F. Bakkali, S. Averbeck, D. Averbeck and M. Idaomar. 2008.  Biological effects of essential oils A review. Food Chem. Toxicol., 46, 446475 (2008).

H.-Y. Chen and G.-C. Yen.  2007.  Antioxidant activity and free radical-scavenging capacity of extracts from guava (Psidium guajava L.) leaves. Food Chem., 101, 686694 (2007).

H.-C. Chen, M.-J. Sheu, L.-Y. Lin and C.-M. Wu.  2007.  Chemical composition of the leaf essential oil of Psidium guajava L. from Taiwan. J. Essent. Oil Res., 19, 345347 (2007).

J.D. da Silva, A.I.R. Luz, M.H.L. da Silva, E.H.A. Andrade, M.G.B. Zoghbi and J.G.S. Maia.  2003.   Essential oils of the leaves and stems of four Psidium spp. Flavour Fragr. J., 18, 240243 (2003).

P. Jaiarj, P. Khoohaswan, Y. Wongkrajang, P. Peungvicha, P. Suriyawong, M.L. Saraya and O. Ruangsomboon.  1999.  Anticough and antimicrobial activities of Psidium guajava Linn. leaf extract. J. Ethnopharmacol., 67, 203212 (1999).

S.A. El-Ahmady, N.A. Ayoub, A.N.B. Singab, M.M. Al-Azizi and K.-H. Kubeczka. 2007.  Chemical composition and antimicrobial activity of the essential oils from Eucalyptus cinerea, Callistemon viminalis and Calothamnus quadrifidus (Myrtaceae). Nat. Prod.: Indian J., 3, 2329

Sherweit H. El-Ahmadya, Mohamed L. Ashoura,B and Michael Winkb.  2013.  Chemical composition and anti-inflammatory activity of the essential oils of Psidium guajava fruits and leaves.  The Journal of Essential Oil Research, 2013.  http://dx.doi.org/10.1080/10412905.2013.796498.

W.K. Oh, C.H. Lee, M.S. Lee, E.Y. Bae, C.B. Sohn, H. Oh, B.Y. Kim and J.S. Ahn.  2005.  Antidiabetic effects of
           extracts from Psidium guajava. J. Ethnopharmacol., 96, 411415 (2005).

W. Nantitanon and S. Okonogi.  2012.   Comparison of antioxidant activity of compounds isolated from guava leaves and a stability study of the most active compound. Drug Discov. Ther., 6, 3843 (2012).

1 komentar: