Senin, 07 Maret 2016

PENGEMBANGAN TEKNOLOGI ARANG KOMPOS BIO AKTIF DI TPA (TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR) DALAM RANGKA MENUNJANG GERHAN (GERAKAN NASIONAL REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN)



PENGEMBANGAN TEKNOLOGI ARANG KOMPOS BIO AKTIF DI TPA (TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR) DALAM RANGKA MENUNJANG GERHAN (GERAKAN NASIONAL REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN)


Oleh :

Gusmailina, Maman Mansyur Idris
Sri Komarayati, & Gustan Pari  

Ringkasan

     GERHAN merupakan gerakan moral yang melibatkan berbagai instansi pemerintah baik di tingkat pusat dan daerah, TNI, POLRI, swasta, dan masyarakat, yang bertujuan untuk merehabilitasi kawasan hutan dan lahan yang rusak sekaligus membangun kesadaran masyarakat untuk mencintai lingkungan. Salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan GERHAN adalah:  tersedianya bibit yang berkualitas yang mempunyai sifat adaptasi yang tinggi, sehingga dengan mudah dan cepat membangun ekosistem mandiri. 
     Untuk memperoleh bibit yang berkualitas, selain  memperhatikan faktor genetis bibit yang digunakan, treatmen pada persemaian dan pembibitan mutlak perlu dilakukan.  Pembibitan merupakan  salah satu tahapan pekerjaan yang harus ditangani secara serius.  Jika tidak, maka bibit yang dihasilkan berkualitas rendah sehingga pencapaian target akan terhambat.      
     Aplikasi arang kompos pada media persemaian dan pembibitan merupakan solusi yang tepat untuk dilakukan.  Karena arang kompos sebagai salah satu bahan organik gabungan antara arang dan kompos yang dihasilkan melalui proses pengomposan, merupakan media yang cocok untuk menunjang kegiatan GERHAN, sebab selain dapat memacu pertumbuhan bibit, bibit yang dihasilkan lebih baik mutu dan kualitasnya.  Hal ini sudah merupakan  hasil penelitian dan uji coba baik di laboratorium, maupun di lapangan.  Hal ini juga yang mendorong pemerintah Kabupaten Garut menggunakan arang kompos sebagai sarana penunjang pada program GERHAN 2003-2004.  Sifat arang yang alkalis sangat cocok untuk lahan masam yang merupakan lahan target program GERHAN, selain itu arang kompos selain menambah ketersediaan unsur hara, juga dapat meningkatkan nilai KTK tanah, serta memperbaiki sifat fisik dan biologis tanah. 
     Kegiatan ini bertujuan untuk membuat arang kompos skala lapangan dengan harapan dapat mendukung kegiatan GERHAN dalam rangka penyediaan bibit yang berkualitas.  Selain itu juga diharapkan dapat menjadi percontohan yang selanjutnya dapat diteruskan oleh berbagai pihak yang berminat, baik swasta, kelompok tani, maupun instansi pemerintahan

Kata kunci:  arang kompos, TPA, sampah, media semai, bibit, GERHAN, Sumsel, Banten




I.  PENDAHULUAN


Kondisi hutan dan lahan Indonesia saat ini telah menjadi keprihatinan nasional, laju deforestasi hutan setiap tahunnya mencapai 1,5 - 2 juta ha per tahun,  sehingga lebih dari 50 juta hektar hutan dan lahan, saat ini dalam keadaan terdegradasi. Kenyataan ini telah mengakibatkan terjadinya peningkatan bencana alam hidrometeorologi yaitu bencana banjir, tanah longsor, menurunnya kualitas air, dan kekeringan.  Penyebab terjadinya bencana alam tersebut sebagian besar karena rusaknya lingkungan terutama di daerah hulu yang berfungsi sebagai daerah resapan yang juga merupakan daerah tangkapan air (catchment area). Oleh karenanya upaya penanggulangan yang diperlukan adalah mengembalikan kondisi daerah hulu kepada fungsinya sebagai daerah yang dapat menahan limpahan air permukaan (run off) dan memperbaiki lingkungn fisik dengan cara yang ramah lingkungan, yaitu rehabilitasi hutan dan lahan.  Upaya pemulihan dan peningkatan kualitas lahan dilaksanakan melalui kegiatan konservasi dan rehabilitasi daerah aliran sungai. Kegiatan tersebut telah dimulai sejak tahun 1970-an, dan pada tahun 2003 lebih ditingkatkan melalui program nasional: GERHAN (Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan)
GERHAN merupakan gerakan moral yang melibatkan berbagai instansi pemerintah baik di tingkat pusat dan daerah, TNI, POLRI, swasta, dan masyarakat, dalam program pemulihan sumber daya hutan serta lahan yang rusak.  Gerakan tersebut diharapkan dapat merehabilitasi hutan yang rusak sekaligus membangun kesadaran masyarakat untuk mencintai lingkungan.  Melalui gerakan tersebut diharapkan sebanyak tiga juta hektar lahan yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia dapat direhabilitasi dalam kurun waktu lima tahun.  Pada tahun 2003 GERHAN telah melakukan penanaman seluas 300.000 hektar lahan kritis yang  tersebar di 15 provinsi, 144 kabupaten dan kota, serta 29 daerah aliran sungai yang rusak. Pada tahun 2004 ini direncanakan seluas 500.000 hektar kawasan hutan rusak dan lahan kritis akan direhabilitasi yang tersebar di 31 provinsi, 373 kabupaten dan kota pada 141 daerah aliran sungai yang jadi prioritas.  Target selanjutnya akan terus bertambah sampai tahun 2007, sehingga total luas lahan yang direhabilitasi mencapai tiga juta hektar  (Wibowo dalam Kompas Cyber Media, 2004).      
Salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan GERHAN adalah:  tersedianya bibit yang berkualitas dan dalam jumlah yang cukup. Untuk tahun 2003 dibutuhkan bibit sebanyak 242.805.500 batang, meliputi jenis MPTS (Multi Purpuse Tree Species) sebanyak 104.649.130 batang, jenis kayu-kayuan sebanyak 138.156.370 batang.   Yang perlu diperhatikan terdapat variasi yang lebar pada jenis tanaman yang ditanam pada kegiatan GERHAN : antara lain kondisi/kesuburan fisik dan kimia tapak yang kritis, iklim yang berbeda, menuntut perencanaan yang matang pada pelaksanaan penanaman   Umumnya sasaran lahan yang dicadangkan bagi GERHAN  adalah lahan-lahan yang tingkat kesuburannya sangat rendah,  sehingga perlu perlakuan tambahan agar kegagalan dapat dikurangi.  Selain pemilihan jenis dan waktu penanaman yang tepat, pemberian pupuk/bahan organik pada persemaian, pembibitan, dan saat tanam sangat diperlukan agar diperoleh bibit yang berkualitas.  Selanjutnya,  perlu pemeliharaan yang intensif, karena hal ini juga termasuk faktor penentu keberhasilan program ini.   Sebagai contoh Program GERHAN tahun 2003-2004 yang dilaksanakan di Kabupaten Cianjur terancam gagal menyusul matinya ribuan pohon yang ditanam dalam pelaksanaan program tahap I, pertengahan Mei 2004 lalu.  Bahkan, pohon jenis sukun yang ditanam Bupati Cianjur Ir. Wasidi Swastomo, M.Si., saat menutup program GERHAN di Kab. Cianjur secara seremonial di Desa Sukamulya Kec. Sukaluyu beberapa waktu lalu, saat ini mati akibat kekeringan.  Di duga  penyebabnya antara lain: bibit yang kurang bermutu, dan waktu tanam yang kurang tepat, karena penanaman dilakukan pada saat menjelang musim kemarau (Pikiran Rakyat Cyber Media 24 Juni 2004).
 Keberhasilan GERHAN juga tergantung pada persentase tumbuh tanaman, dan persentase tumbuh tanaman akan sangat bergantung pada awal pertumbuhannya.  Untuk mengurangi kegagalan, treatmen pada awal penanaman menjadi mutlak perlu dilakukan.  Pembibitan merupakan  salah satu tahapan pekerjaan yang harus ditangani secara serius.  Jika tidak, maka bibit yang dihasilkan berkualitas rendah sehingga pencapaian target akan terhambat.  Aplikasi arang kompos pada media persemaian dan pembibitan merupakan solusi yang tepat untuk dilakukan.  Karena arang kompos sebagai salah satu bahan organik gabungan antara arang dan kompos yang dihasilkan melalui proses pengomposan, merupakan media yang cocok untuk menunjang kegiatan GERHAN, sebab selain dapat memacu pertumbuhan bibit, juga menjadikan bibit lebih baik mutu dan kualitasnya.  Hal ini sudah merupakan  hasil penelitian dan uji coba baik di laboratorium, maupun di lapangan.  Sifat arang yang alkalis sangat cocok untuk lahan masam yang merupakan lahan target program GERHAN, selain itu arang kompos selain menambah ketersediaan unsur hara, juga dapat meningkatkan nilai KTK tanah, serta memperbaiki sifat fisik dan biologis tanah.                

  
II.  TPA SEBAGAI EMITTER GRK, SALAH SATU PEMICU PEMANASAN GLOBAL
 
Pemanasan global adalah gejala naiknya suhu permukaan Bumi akibat meningkatnya konsentrasi GRK. Enam jenis GRK utama adalah gas karbon dioksida (CO2), Methana (CH4), Nitrat oksida (N2O).  Dalam laporan yang disusun oleh International Panel on Climate Change (IPCC) 1988, dilaporkan bahwa rata-rata temperatur global telah meningkat 0,6.% serta dilaporkan bahwa tahun 1990-an adalah dekade terpanas.  Meningkatnya suhu bumi diperkirakan akan mengakibatkan terjadinya perubahan iklim dan kenaikan permukaan air laut. Menyadari besarnya ancaman pemanasan global, disepakati Kyoto Protocol 1997. Negara-negara industri-penyumbang GRK terbesar-berkomitmen menguranginya.  Salah satu GRK yang berpengaruh adalah CH4 (methana). Kekuatannya dalam efek pemanasan global 23 kali lebih tinggi dari CO2. Untuk mengejar target pengurangan emisi GRK, produksi gas methana perlu dikendalikan. Berbagai sumber gas methana antara lain adalah rawa, TPA, penambangan gas alam, pembakaran biomassa. Dalam hubungannya dengan persampahan, TPA menjadi sumber gas methana karena adanya proses penguraian sampah  oleh jasad renik.      
Di Indonesia saat ini terdapat sekitar 450 TPA sebagai sumber emisi gas methana. Sebagai contoh, sampah sebanyak 1000 ton, dengan kandungan sampah organik 56 persen akan menghasilkan gas methana 21.000 ton setiap tahunnya atau setara dengan CO2 486.500 ton.  Masyarakat Eropa sepakat tahun 2005 tidak membuang sampah organiknya langsung ke TPA. Sampah organik diolah terlebih dahulu agar gas tidak diproduksi dalam jumlah besar. Pengolahan dapat berupa insinerasi, pengomposan, dan produksi biogas.  Pengomposan adalah proses yang dipilih oleh Global Environment Facility yang dianggap sesuai untuk diterapkan di Indonesia untuk mereduksi produksi GRK sekaligus untuk membantu perbaikan sistem pengelolaan sampah di Indonesia. 
Sistim pengelolaan sampah kota di Indonesia umumnya menggunakan sistem 3P, yaitu pengumpulan, pengangkutan, dan pembuangan. Dengan meningkatnya aktivitas dan jumlah penduduk, maka jumlah sampah juga meningkat. Timbunan sampah kota diperkirakan meningkat lima kali lipat tahun 2020. Kalau tahun 1995 jumlah rata-rata produksi sampah perkotaan di indonesia 0,8 kg per kapita per hari, tahun 2000 menjadi 1,0 kg, maka tahun 2020 diperkirakan 2,1 kg per kapita.  Di Jakarta tahun 1996/1997 dengan populasi sekitar 10 juta orang, jumlah sampahn mencapai 25.404 m3.  Akhir  penanganan sampah sistem 3P adalah TPA, sampah ditumpuk yang belum memperhatikan aspek sanitasi. Maka timbullah berbagai pencemaran lingkungan seperti pencemaran udara, pencemaran air, tanah, serta  sumber berkembang biaknya penyakit menular.  Tragedi  TPA Leuwigajah, Cimahi merupakan musibah dan contoh dari pengelolaan sampah di TPA yang buruk.  Hanya akibat guyuran hujan selama dua hari berturut-turut, gunungan sampah tersebut longsor dan menimbun perumahan penduduk. Musibah ini telah menelan korban lebih dari 150 jiwa, serta berakibat pula terhadap kondisi lingkungan. Situasi Kota Bandung pasca bencana tersebut terlihat mengkhawatirkan, sampah menumpuk dan berserakan di mana-mana. Tempat pembuangan sampah yang tersebar di Kota Bandung sudah terisi penuh melewati batas maksimal. Oleh karena itu, diperlukan paradigma baru dalam melakukan pengelolaan limbah (waste management) perkotaan.
Gambar 1.  Berbagai jenis limbah di tempat pembuangan sebagai polutan dan sumber penghasil GRK


Teknologi komposting merupakan cara paling aman untuk mengelola sampah di TPA.  Produk berupa kompos sangat berguna dan sudah tidak diragukan lagi manfaatnya, dan jika dikelola secara komersil dapat dijadikan sebuah peluang usaha yang menggiurkan.  Karena trend bermacam produk organik semakin digemari masyarakat, dan kompos merupakan salah satu faktor pendukung budidaya organik.


D
 
C
 
B
 
A
 

Gambar 1.  Aktifitas pembuatanArang Kompos Bio Aktif di beberapa TPA Kota.
            (A: Padang; B: Palembang; C:  Pandeglang; dan D:  Bantargebang)


III.  ARANG SEBAGAI PEMBANGUN KESUBURAN TANAH
Beberapa tahun terakhir karena sifatnya arang tidak hanya dikenal sebagai sumber energi, namun juga digunakan untuk pembangun kesuburan tanah (PKT). Karena secara morfologis arang mempunyai pori yang efektif untuk mengikat dan menyimpan hara tanah dan selanjutnya dilepaskan secara perlahan sesuai dengan konsumsi dan kebutuhan tanaman (slow release) sehingga hara tanah tidak mudah tercuci dan lahan akan selalu berada dalam kondisi siap pakai. Keuntungan pemberian arang pada tanah sebagai soil conditioning (PKT) karena arang mempunyai kemampuan dalam memperbaiki sirkulasi air dan udara di dalam tanah, meningkatkan pH tanah sehingga dapat merangsang dan memudahkan pertumbuhan dan perkembangan akar tanaman.
   Arang selain dapat digunakan langsung sebagai agent pembangun kesuburan tanah, juga digunakan sebagai campuran dalam proses pengomposan.  Pembuatan arang kompos merupakan salah satu teknik yang relatif baru dikembangkan oleh P3THH dengan memanfaatkan arang pada proses pengomposan.  Tujuan penambahan arang pada proses pengomposan adalah selain meningkatkan kualitas dari kompos tersebut, juga diharapkan dengan adanya arang pada pengomposan akan menambah jumlah dan aktivitas mikroorganisme yang berperan, sehingga proses dekomposisi dapat berlangsung lebih cepat. 
            Aplikasi arang yang menyatu dalam kompos (arang kompos) sangat bermanfaat untuk memacu perkembangan mikroorganisme (mikoriza) tanah, meningkatkan pH tanah pada tingkat yang lebih sesuai bagi pertumbuhan tanaman, sehingga cocok untuk reklamasi lahan yang mempunyai tingkat kesuburan tanah dan produktivitas yang rendah sehingga dapat diandalkan untuk mengatasi berbagai masalah lahan di Indonesia antara lain lahan kritis dengan kadar pH tanah yang rendah, menurunnya tingkat kesuburan tanah atau produktivitas lahan. 
Gambar 2.  Peranan arang di dalam tanah sebagai soil conditioning

b.  Pentingnya arang dan arang kompos sebagai suplai bahan organik tanah

 Kenyataan menunjukkan bahwa merosotnya kualitas dan kuantitas sumber daya akibat pemanfaatan yang melampaui batas  mengakibatkan kerusakan sumberdaya yang tidak dapat dihindari.  Kenyataan juga menunjukkan bahwa program rehabilitasi kerusakan lahan yang masih meninggalkan lahan kritis seluas 7.269.700 ha yang harus dihijaukan, serta hutan seluas 5.830.200 ha yang masih harus dihutankan kembali.  Di sektor pertanian gejala penurunan produksi padi akibat pemberian pupuk kimia/anorganik secara intensif telah terbukti.  Akibat pemberian pupuk kimia secara intensif selama 25 musim tanam ternyata diikuti oleh penurunan produksi padi jenis IR 36 (Martodiresi dan Suryanto, 2001).  Keadaan ini ternyata diakibatkan oleh menurunnya kandungan bahan organik tanah dari musim ke musim yang tak bisa digantikan perannya oleh pupuk kimia NPK misalnya.  Akibatnya kemampuan tanaman membentuk anakan menurun.  Inilah yang menjadi penyebab utama menurunnya produksi padi.  Keadaan ini menunjukkan betapa pentingnya pemeliharaan stabilitas bahan organik tanah bagi kelestarian produktivitas pertanian dan kehutanan.  Sebab bahan organik tanah bukan hanya berfungsi sebagai penyuplai hara, tetapi juga berguna untuk menjaga kehidupan biologis di dalam tanah.
Kenyataan juga membuktikan bahwa efisiensi pupuk kimia lebih rendah.  Tanaman di lahan kering di daerah tropis kehilangan sampai 40-50 % N yang diberikan, padi sawah kehilangan N kurang dari 60-70 %.  Bila kondisi kurang mendukung, misalnya tingginya curah hujan, musim kemarau yang panjang, tingginya erosi tanah, serta rendahnya bahan organik tanah, maka efisiensinya bisa lebih rendah lagi (FAO, 1990 dalam Reijntjes dkk. 1999).
Kenyataan juga menunjukkan bahwa pupuk kimia ini bisa mengganggu kehidupan dan keseimbangan tanah, meningkatkan dekomposisi bahan organik, yang kemudian menyebabkan degradasi struktur tanah, kerentanan yang lebih tinggi terhadap kekeringan, sehingga produktivitas rendah.  Aplikasi yang tidak seimbang dari pupuk mineral N yang menyebabkan pengasaman dan menurunkan pH tanah serta ketersediaan hara P bagi tanaman.  Penggunaan pupuk kimia NPK yang terus menerus menyebabkan penipisan unsur-unsur mikro seperti seng, besi, tembaga, mangan, magnesium, molybdenum, boron, yang bisa mempengaruhi tanaman, hewan, dan kesehatan manusia. (Sharma, 1985; Tandon, 1990 dalam Reijntjes dkk. 1999).
Kenyataan lingkungan global menunjukkan bahwa penggunaan pupuk kimia di negara maju dan negara berkembang memberikan andil pada resiko global yang muncul dari pelepasan Nitrogen oksida (N2O) pada atmosfir dan lapisan di atasnya.  Pada lapisan stratosfir, N2O akan menipiskan lapisan ozon dan dengan menyerap gelombang sinar infra merah tertentu, meningkatkan suhu global (efek rumah kaca) dan mengganggu kestabilan iklim.  Hal ini bisa mengakibatkan perubahan pola, tingkat dan resiko produksi pertanian.  Meningkatnya permukaan air laut akan membawa konsekuensi besar bagi daerah delta yang rendah dan muara.  Mengingat bahaya ini, larangan penggunaan pupuk kimia di seluruh dunia tak bisa dikesampingkan lagi untuk masa datang (Conway dan Pretty, 1988, 1988 dalam Reijntjes dkk. 1999)
 Berdasarkan kenyataan-kenyataan tersebut, perlu upaya yang lebih besar untuk mempromosikan penggunaan pupuk organik yang  lebih efisien serta ramah lingkungan. Apalagi akhir-akhir ini meningkatnya kecenderungan masyarakat terhadap produk-produk yang berasal dari budidaya organik, karena produknya lebih bersih dan bebas dari bahan-bahan kimia anorganik, sehingga cukup aman dan sehat untuk dikonsumsi. Penggunaan sumber-sumber pengganti N seperti, limbah biomassa misalnya : sampah tanaman, pupuk hijau, pupuk kandang, penanaman leguminosa secara bergantian dan sebagai pohon pelindung, alga biru-hijau dan bakteri pengikat N pada sawah dan hutan seperti rhizobium dan mikoriza merupakan alternatif.  Di sektor kehutanan limbah biomassa cukup potensial, misalnya limbah pemanenan, serasah tanaman (dedaunan segar atau kering), serta limbah industri pengolahan kayu diantaranya serbuk gergaji.
Arang kompos merupakan salah satu produk bahan organik yang lebih mengutamakan pada kelestarian lingkungan. Karena memanfaatkan limbah serbuk gergaji, serasah hutan, ranting, cabang/dahan yang tertinggal sewaktu pemanenan.  Dengan sedikit input teknologi maka limbah-limbah tersebut dapat dibuat menjadi  bahan  organik yang banyak manfaatnya. Dampak yang akan diperoleh meningkatnya produksi dan produktivitas tanah, menambah pendapatan keluarga, dan akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat.
Gambar 3.  Aplikasi Arang Kompos Bio Aktif oleh petani pada tanaman tumpang sari di baweah tegakan Pinus merkusii di Ciloto.

c.  Aplikasi arang dan arang kompos dalam menunjang program CDM forestry
    
 CDM (Clean Development Mechanism) adalah salah satu mekanisme di bawah Kyoto Protocol sebagai bagian dari UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change/Konvensi Perubahan Iklim) yang maksudnya untuk membantu negara berkembang menuju pembangunan berkelanjutan dan kontribusinya terhadap pencapaian tujuan konvensi perubahan iklim, serta membantu negara maju/industri memenuhi kewajibannya untuk menurunkan emisi gas rumah kaca.  Salah satu butir dari hasil rumusan lokakarya LULUCF November tahun 2000, adalah aspek saintifik yang berkaitan dengan CDM perlu dikembangkan dan ditindak lanjuti (Anonimus, 2000).
            Pembuatan dan aplikasi arang kompos menunjang program CDM, karena : (1) dengan memanfaatkan arang sebagai sumber karbon, artinya dapat mencegah peningkatan pelepasan jumlah karbon ke atmosfir atau karbon akan tersimpan dalam batas waktu tertentu dalam arang di dalam tanah;  (2) arang sebagai sumber karbon di dalam tanah dapat merangsang perkembangan mikroorganisme tanah, sehingga dapat membangun kondisi biologis tanah, meningkatkan pH tanah, memperbaiki kondisi fisik dan kimia tanah, sehingga meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman.  Meningkatnya pertumbuhan tanaman hutan memperbesar jumlah sink atau rosot CO2 dan selanjutnya akan dicapai net-source penyerapan > dari emisi;  (3) mengurangi pelepasan emisi berbagai gas rumah kaca dari TPA.

Gambar 4:  Aplikasi Arang Kompos Bio Aktif pada areal hutan tanaman Jati  oleh JIFPRO (Jepang) di Sekaroh, Mataram, Lombok, sebagai tindak lanjut dari Kyoto Protocol

V.          DAFTAR PUSTAKA
Anonim.  2003.  Departemen kehutanan siap laksanakan GN RHL.  Siaran Pers No. 1428/II/PIK-1/2003.  www. dephut.go.id
Anonim.  2004.  Gerakan nasional rehabilitasi hutan dan lahan gagal
r
ibuan jenis pohon mati akibat kekeringan.  Cianjur. Pikiran Rakyat Cyber Media Online 24 Juni 2004.

Anonim.  2004.  Partisipasi masyarakat dalam GNRHL 15 %. Kolom lingkungan.  Media Indonesia Online. 7 Juni 2004

Away, Yufnal, 2003.  Uji coba penggunaan bioaktivator “orgadec plus” pada sampah kota di TPA Bantar Gebang.  Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia.  Bogor

Gusmailina; G. Pari, and S. Komarayati.  1999.  The utilization technology of  charcoal and   activated charcoal as a soil conditioning on plants. Project Report.  Forest products  Research Centre.  Bogor.        

Gusmailina, G. Pari, dan S. Komarayati.  2001.  Teknik penggunaan arang sebagai soil conditioning pada tanaman.  Laporan hasil penelitian (tidak diterbitkan)

Gusmailina, G. Pari, dan S. Komarayati.  2002.  Implementation study of compost and charcoal compost  production.  Laporan kerjasama Puslitbang Teknologi Hasil Hutan dengan JIFPRO - Jepang (Tidak diterbitkan)

Gusmailina, G. Pari, dan S. Komarayati.  2002.  Pedoman pembuatan arang kompos.  Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan, Bogor.

Sri Komarayati, Gusmailina dan G. Pari. 2002.  Pembuatan kompos dan arang kompos
dari serasah dan kulit kayu tusam. Buletin Penelitian Hasil Hutan. Vol. 20 No. 3.
Halaman 231 – 242. Bogor

Reintjes, C., Haverkort, B., Bayer. W.,  1999.  Pertanian masa depan.  Pengantar untuk pertanian berkelanjutan dengan input luar rendah.  Penerbit Kanisius.  Jakarta

Rao dkk., 1998 dalam Saad A., 2002.  Pembangkitan criteria kesesuaian lahan untuk tanaman duku spesifik lokasi Kumpeh Kabupaten Muaro Jambi.  Unpublished.

1 komentar: